Kabar Terkini

Simfoni Perdamaian Bandung Philharmonic dalam Keindahannya Berbagi


Bandung Phil 1Pada tanggal 26 September 2017 silam, dua orang penting dalam Bandung Philharmonic Orchestra mengunjungi Jakarta untuk mengadakan resital serta fundraising untuk program pendidikan Bandung Philharmonic tahun 2018. Mereka adalah Airin Efferin, pianis dan ketua operasional dari Bandung Philharmonic, dan Michael Hall, violis dan direktur pendidikan dari Bandung Philharmonic. Acara yang diadakan di Shoemaker Studios ini menampilkan karya duet piano dan viola serta solo viola. Sebuah kesempatan yang langka untuk dapat mendengarkan sebuah resital seorang pemain viola kenamaan asal Amerika.

Komposisi pertama yang dimainkan adalah Sonata in G Minor, BWV 1029 karya Johann Sebastian Bach yang terdiri atas tiga bagian: Vivace, Adagio, dan Allegro. Karya ini mengeksplorasi suara viola dengan begitu baik dan Michael dapat memainkan tiap nada dengan begitu rapi. Melalui komposisi ini, terlihat pula komunikasi yang kompak antara Airin dan Michael yang saling bersahutan melalui nada-nada yang dimainkan. Pada gerakan pertama, komposisi karya Barok ini terdengar begitu lincah dengan suara yang kuat dan mendalam sesuai dengan karakteristik alat musik yang dimainkan. Gerakan kedua begitu menenangkan terdengar dan menunjukkan fleksibilitas sang solois viola dalam memainkan gerakan yang cepat maupun lambat. Gerakan ketiga kembali pada tempo yang cepat, permainan violis dan pianis terdengar sangat rapi namun sempat terdengar tempo yang tidak sinkron. Meskipun begitu, mereka cepat menyamakan tempo yang menunjukkan bahwa kedua pemain saling mendengarkan satu sama lain.

Tiga komposisi berikutnya merupakan karya yang diciptakan oleh rekan Michael Hall spesial untuk dirinya. Pertama adalah The Boy and a Makeshift Toy karya Mary Kouyoumdjian, berikutnya adalah Cantastoria untuk solo viola karya Rob Deemer, dan terakhir adalah And the World karya Christian Ellenwood. Semua karya yang dimainkan tersebut terdengar sangat ekspresif dimainkan oleh Michael. Meskipun sebelumnya tidak pernah mendengar karya-karya tersebut, tetapi semuanya begitu memikat penonton untuk terus mengikuti cerita dari masing-masing karya. Khususnya pada komposisi terakhir yang ternyata diciptakan pada saat masa duka yang dialami komponis, mengingat ternyata orang Christian dan Michael sama-sama meninggal saat usia mereka masih muda. Setelah memainkan karya-karya untuk viola, pemilik dari Shoemaker Studios, Prajna Murdaya, yang menjadi penyanyi tenor tamu ikut memeriahkan resital dengan menyumbangkan sebuah lagu. Prajna diiringi oleh Airin menyanyikan lagu What You Need karya John Bucchino. Sebuah lagu dari sebuah musical Broadway berjudul “It’s Only Life” begitu ringan dinyanyikan oleh Prajna. Permainan piano dengan gaya blues ini menunjukkan fleksibilitas Airin sebagai seorang pianis.

Bandung Phil 2

Selesai sesi resital, acara dilanjutkan dengan memasuki sesi fundraising. Kegiatan diawali dengan presentasi oleh Michael Hall mengenai program pendidikan apa saja yang sudah dilakukan oleh Bandung Philharmonic selama kiprahnya dari tahun 2015. Michael menceritakan bahwa dirinya sudah mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan pendidikan musik baik kepada siswa maupun kepada guru. Tidak hanya pendidikan musik, tetapi juga memberikan pelatihan kepada orkestra. Meskipun Michael adalah seorang pemain viola, tetapi beliau juga berpengalaman dalam memberikan pelatihan kepada pemain alat musik tiup karena beliau juga bermain trumpet. Dalam menjalankan visi pendidikan ini, Michael tidak bekerja sendiri namun juga bekerja sama dengan para musisi Bandung Philharmonic. Beberapa musisi juga pernah datang ke sebuah rumah baca untuk menarik anak-anak kepada musik dan mengajaknya bermain bersama. Mereka juga pernah mengadakan konser khusus anak-anak di Institute Francais d’Indonesie di Jakarta dan Bandung untuk memperkenalkan musik kepada anak-anak.

Setelah selesai mempresentasikan program pendidikan dari Bandung Philharmonic, Airin mulai mengajak untuk rekan-rekan yang hadir di Shoemaker Studios untuk berbagi untuk Bandung Philharmonic guna kesuksesan program pendidikan yang akan dijalankan ke depannya. Hal yang menarik adalah Prajna memberikan penawaran bahwa setiap rupiah yang diterima pada hari itu, maka beliau akan melipat gandakan menjadi dua kali lipat. Pada saat itu, terlihat antusiasme orang-orang untuk berbagi di semua kalangan dan pada akhirnya mereka berhasil mengumpulkan ratusan juta untuk kelangsungan program pendidikan Bandung Philharmonic.

Selain mendapatkan hiburan dari resital yang ditampilkan, para penonton juga merasakan perasaan bahagia karena menjadi bagian dari misi Bandung Philharmonic untuk memajukan pendidikan musik di Indonesia. Maju terus Bandung Philharmonic!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: