Kabar Terkini

Peristeri: Harmoni Perdamaian Orkes Simfoni UI Mahawaditra


Burung merpati adalah simbol dari perdamaian dan keharmonisan dalam keberagaman adalah pesan yang ingin disampaikan dalam konser ini. Peristeri: Harmony of Peace merupakan tema yang diangkat oleh Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra pada tanggal 30 September 2017. Konser pada kali ini berbeda dengan konser yang biasanya diadakan, karena mereka menyebutnya sebagai konser edukasi. Sepanjang konser, MC akan menjelaskan terlebih dahulu komposisi yang akan dimainkan sebelum komposisi dimainkan. Konser diadakan di Makara Art Center, sebuah gedung kesenian yang baru saja dibangun di Universitas Indonesia, yang merupakan konser penuh pertama Mahawaditra di sini. Konser dengan pengaba Michael Budiman Mulyadi ini diadakan sebanyak dua sesi, yaitu sesi siang pukul 14.00 dan sesi malam pukul 19.00. Tulisan ini akan fokus pada konser yang diadakan di sesi siang.

Setelah konser dibuka dengan Indonesia Raya, orkestra memainkan salah satu overtur yang paling banyak dimainkan di dunia yaitu Overture 1812 karya Pyotr Ilyich Tchaikovsky yang diaransemen oleh J. F. Lehmeier. Karya ini dimainkan dengan baik oleh masing-masing pemain dari semua seksi, walau terdengar kurang padu sebagai sebuah kelompok. Tampaknya akustik gedung konser kurang memadai atau penulis kebetulan duduk di tempat yang kurang mendapatkan pantulan suara. Dugaan ini diperkuat ketika sebuah bagian dari perkusi yang biasanya dimainkan dengan meriam, dalam arasansemennya diganti dengan Gran Cassa namun tidak terdengar suara yang menggelegar. Dugaan lain adalah para pemain belum terbiasa bermain dan belum ‘panas’ karena Tchaikovsky menjadi komposisi pertama yang dimainkan. Terlepas dari itu, permainan dari seksi gesek dan seksi tiup kayu patut diapresiasi atas kerapian dan usaha untuk memunculkan ekspresi yang diharapkan oleh pengaba.

Dari Rusia berpindah ke Inggris melalui karya Fantasia on Greensleeves karya Ralph Vaughan Williams. Melodi dari Greensleves dimainkan oleh instrumen yang berbeda-beda, seperti solo flute, solo oboe, violin 2, viola, dan cello. Suara terdengar padu pada saat orkestra memainkan karya ini dan tampak bahwa pengaba secara rapi menggarap karya ini. Pergantian pemain terjadi setelah dimainkannya Greensleeves, karena giliran Junior Strings Orchestra yang tampil. Junior Strings Orchestra Mahawaditra merupakan para anggota seksi gesek Mahawaditra yang masih dalam tahap belajar sebelum masuk ke orkestra utama. Mereka memainkan Suite of the Day karya Hilary Burgoyne. Sebelum karya dimainkan, Aldiman Bakhti selaku pengaba menjelaskan terlebih dahulu masing-masing instrumen di seksi gesek. Karya ini terdiri atas 5 gerakan yang masing-masing gerakan menggambarkan aktivitas yang dilakukan dari pagi sampai malam. Pada karya ini, terdengar permainan yang kompak dan terasa tanggung jawab dari masing-masing pemain terhadap nada yang dimainkan. Terlepas dari intonasi, jerih payah Junior String Orchestra berlatih berbulan-bulan terbayar sudah dengan penampilan yang baik pada sore itu. Berakhirnya karya tadi merupakan akhir dari sesi 1.

Selesai intermission, para pemain tiup kayu dan tiup logam masuk ke dalam panggung dengan beberapa pemain alat musik Keroncong. Widayanto, pelatih dari seksi tiup kayu Mahawaditra, menjelaskan mengenai masing-masing alat tiup yang dimainkan dan mengatakan bahwa alat musik khas barat ini akan bermain dengan irama Keroncong yang khas Indonesia. Karya yang dimainkan adalah Melati Suci karya Guruh Soekarno Putra yang merupakan aransemen dari sang pelatih sendiri. Karya berikutnya yang dimainkan adalah Petite Symphonie for Winds Notet karya Charles Gounod. Notet adalah karya yang terdiri atas 9 orang, karena komposisi ini dimainkan dengan 1 flute, 2 oboe, 2 clarinet, 2 bassoon, dan 2 horn. Dari empat gerakan, dimainkan dua gerakan pertama. Seksi tiup, baik saat memainkan Melati Suci dan Petite Symphonie, terdengar mampu menguntai nada-nada dengan instrumennya masing-masing dan para pemain terlihat menikmati permainannya. Dengan format ansambel yang lebih kecil membuat suara terdengar terproyeksi dengan lebih baik.

Orkestra kembali ke atas panggung dan Michael mulai memberikan penjelasan mengenai masing-masing alat di orkestra khususnya pada seksi tiup dan perkusi. Beliau juga meminta agar para pemain memainkan instrumennya agar para penonton mendengar suara alat musik yang dimainkan. Setelah penjelasan mengenai alat musik, karya yang dimainkan merupakan salah satu karya Ludwig van Beethoven yang akrab di telinga pendengar, yaitu gerakan pertama dari Symphony no. 5 in C Minor. Berbeda dengan sebelum intermission, suara orkestra terdengar lebih kompak dan mampu membaur antara satu seksi dengan seksi lainnya. Para pemain tampaknya mulai ‘panas’ dan terbiasa dengan suara akustik gedung. Didukung dengan sang pengaba yang memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas sepanjang karya dimainkan, orkestra cukup responsif dan dapat memainkan dinamika-dinamika yang diharapkan secara disiplin. Setelah itu dibawakan karya dari composer in residence OSUI Mahwaditra Marisa Sharon Hartanto, yaitu Medley Dari Sabang-Bangun Pemudi Pemuda. Karya ini merupakan bintang dari konser pada hari itu karena berhasil membuat para penonton tersenyum dan bertepuk tangan meriah. Uniknya terdapat bagian di mana orkestra memainkan Janger dan seksi tiup logam berteriak dengan suara khas seperti penari Kecak.

Karya terakhir yang dimainkan adalah Hungarian Dance no. 5 karya Johannes Brahms. Karya dimainkan dengan tempo yang sedikit lebih cepat dari yang biasa terdengar, meskipun begitu orkestra mampu memainkannya dengan sangat baik. Perubahan tempo cepat dan lambat dipimpin oleh pengaba dengan baik walaupun sempat terdengar seperti terburu-buru dimainkan oleh para pemain. Meskipun begitu, setiap pemain mampu mengikuti pengaba dan cukup jeli mengikuti setiap detil yang diharapkan oleh pengaba. Riuh tepuk tangan terdengar dan membuat orkestra kembali memainkan karya Hungarian Dance no. 5. Kali ini, Michael mengajak para penonton bertepuk tangan bersama seperti bila orkestra memainkan Radetzky March karya Johann Strauss. Dengan keceriaan yang terbentuk dalam gedung konser, orkestra memainkan karya yang sama kedua kalinya ini dengan lebih santai dengan tetap memperhatikan detil musiknya.

Mahawaditra menunjukkan perkembangannya yang sangat baik dibandingkan penampilannya tahun lalu. Walaupun disayangkan akustik gedung yang kurang mendukung, namun orkestra menunjukkan bahwa mereka dapat tampil secara prima. Melalui konser edukasi ini, penonton tidak hanya pulang dengan kebahagiaan mendengarkan konser yang indah tetapi juga pengetahuan yang baru mengenai orkestra. Selamat Mahawaditra dan ditunggu konser berikutnya dengan anggota-anggotanya yang baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: