Kabar Terkini

Perjalanan Imajinasi dalam sebuah Konser di Tapal Batas


~oleh Andre Loong

Jakarta City Philharmonic (JCP) smengadakan konser rutinnya yang ke-8 dengan tema Tonalitas di Tapal Batas. Keseruan malam itu dimulai dengan Eric Awuy menjelaskan secara garis besar bagaimana pesan moral dan isi dari konser JCP malam itu. Sempat saya terhenyak dengan pengetahuan sang maestro Budi Utomo Prabowo yang dilatar belakangi dengan pengetahuan music yang cukup tajam menjelaskan Gustav Mahler sebagai komposer Austria yang mampu memberikan dampak pada musik di eranya. Richard Strauss yang berbeda dengan Johann Strauss mulai dari karya-karyanya hingga nama yang sama tetapi memiliki garis keturunan yang berbeda sehingga mereka tidak memiliki garis keluarga sama sekali juga dijelaskan dengan rinci. Penjelasannya ditutup dengan menghadirkan secara langsung pencipta lagu Pulang Tinggal Nama, Aksan Sjuman. Beliau menjelaskan bahwa dalam lagu ini tidak akan ada lirik secara khusus tetapi akan menghadirkan warna suara penyanyi yang seakan-akan berteriak atau mengerang.

Konser Oktober ini dibuka dengan penampilan Passacaglia dari Anton Webern, seorang komponis abad modern yang cukup menggelitik. Pizzicato tajam di awal karya mampu menggambarkan setiap harmoni yang disonan namun mampu mengiring pendengar masuk ke dalam alam khayal dan menciptakan imajinasi yang liar. Bagi sebagian orang, Passacaglia ini merupakan suatu prelude yang cukup mulus ditambah dengan perjalanan lagu yang membawa keingintahuan dan ekspektasi musikal audiens makin melambung tinggi. Hingga pada akhirnya lagu ini ditutup dengan pianississimo yang mampu menenangkan jiwa dari perjalanan imajinasi yang tanpa ujung.

Perjalanan imajinasi dilanjutkan dengan nuansa kelam dari seorang Gustav Mahler. Bagaimana tidak, sang pencipta lagu ini sempat mengalami 8 kematian dari anak tercintanya. Ditambah lagi, karya ini diadaptasi dari puisi Kindertotenlieder oleh Friedrich Ruckert yang terdiri dari lima bagian yang masing-masing mengisahkan tentang kematian anak-anak. Suasana kelam dan kesedihan yang mendalam makin terasa begitu solis Aning Katamsi membawakan rentang bawah suara sopranonya yang menyayat setiap hati.
Tidak puas dengan kesedihan, Aning Katamsi berani hadir kembali dengan membawakan lagu dari Aksan Sjuman yang berjudul Pulang Tinggal Nama. Lagu ini begitu tenang dan mengisahkan tentang rombongan prajurit yang memang siap untuk pergi tanpa harus kembali raganya. Sehingga suara soprano yang seakan mengadaptasi suara teriakan pun terdengar di beberapa bagian lagu ini yang membawa jiwa penonton semakin tersayat mendengar teriakan keluarga korban yang harus menerima kenyataan bahwa keluarganya hanya pulang tinggal nama.

Seakan tidak tenang untuk mengizinkan audiens pulang dengan air mata di pipi, konser JCP kali ini mengakhiri konsernya dengan Till Eulenspiegel dari Richard Strauss yang banyak mengambil nada-nada yang konyol dan nakal dari karakter Jerman nakal yang selalu membawa masalah kemanapun dia berada. Karakter yang diadaptasi dari cerita fiktif ini cukup fenomenal dengan sifatnya yang konyol, jenaka dan bahkan usil hingga dia berhasil menciptakan banyak konflik di sana sini. Alhasil, di akhir cerita dia harus menerima hukuman atas keisengannya ini sendiri di hadapan orang-orang yang jengkel atas ulahnya. Warna-warni instrumen diolah Strauss untuk menciptakan kesan usil dan hidup yang mendominasi seluruh karya.

Hasil akhir dari konser ini adalah standing ovation dari beberapa penonton yang benar-benar terhenyak dalam balutan imajinasi sang pengaba dan pemain yang luar biasa. Penonton telah dibawa ke imajinasi liar dari lagu-lagu syahdu hingga karakter nakal yang tidak mengecewakan. Sungguh dari pengalaman ini, saya tidak sabar akan berada di dalam lautan penonton di konser berikutnya bulan November.

~ Andre Loong, LRSM adalah lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya dan juga seorang  pengajar music gesek di Suzuki Music Association of Indonesia (SMAI) dan sebagai konduktor pada organisasi All Jakarta Honor Orchestra (AJHO) juga penggerak Kelas Inspirasi dan Transjakarta Symphony. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: