Kabar Terkini

Teori Interpretasi: yang terlupakan di balik makna intuisi dan musikalitas


~oleh Jeannette Regina

Penampilan seorang musisi ketika mempertunjukan sebuah karya musik merupakan sebuah momentum untuk menampilkan kepiawaian seorang musisi dalam mengaplikasikan kemampuan yang dimilikinya. Menjadi sebuah hal unik bahwa dalam menampilkan sebuah karya musik yang diciptakan oleh seorang pencipta karya dan ditampilkan oleh musisi yang berbeda dapat menghasilkan beberapa perbedaan yang mencolok dalam penampilan mereka masing-masing.

Dalam penulisan artikel ini, penulis akan mengangkat permasalahan tersebut sebagai objek penelitian, mengenai interpretasi musisi terhadap sebuah karya komponis merupakan sebuah proses kreativitas yang dapat memperkaya dunia musik. Terkadang sebuah perbedaan yang ditampilkan oleh musisi di atas panggung dianggap sepele oleh para penikmat musik. Perbedaan yang dimaksudkan adalah seperti perbedaan tempo yang dimainkan, ataupun perbedaan dinamik bahkan hingga style yang dimainkan melalui interpetasi musisi dalam penampilan mereka.

Zaman klasik merupakan sebuah era yang sangat berpengaruh dalam perkembangan musik klasik. Periode masa ini terjadi sekitar tahun 1750-1820. Ludwig van Beethoven, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Joseph Haydn merupakan sederetan nama komponis musik yang sangat melekat dengan zaman ini.

Dalam menampilkan karya musik, ada beberapa jenis pertunjukan terkait dengan jumlah pemain alat musik. Ada yang ditampilkan ditampilkan secara tunggal (solo), disajikan secara terbatas (ditampilkan lebih dari satu orang, namun tidak sampai lebih dari sepuluh orang), dan penyajian musik secara orkestra. Istilah orkestra menurut John Spitzer (Sadie. 2001:530) pada masa Yunani dan Romawi kuno menunjuk tentang tingkatan dasar dari sebuah panggung terbuka, yang digunakan kembali pada zaman Renaissance untuk menunjukan tempat di depan panggung. Tempo merupakan sebuah unsur yang sangat erat dengan pergerakan akan sebuah karya. Dengan adanya tempo, menjadikan kita dapat menikmati melodi-melodi yang terangkai dalam sebuah partitur.

Berdasarkan penelitian terhadap karya Beethoven yang berjudul Simfoni No. 5 C Minor Op. 67, bagian yang pertama. Di balik sebuah penampilan yang agung, tentunya ada peran besar dari seorang dirigen yang memimpin dalam proses penggarapan sebuah  suatu karya. Penulis meyakini adanya interpretasi yang berbeda antar tiap dirigen dalam sebuah karya. Maka penulis menggunakan tiga pertunjukkan dari orkestra yang berbeda sebagai pembanding dalam penelitian ini, berikut ketiga orkestra tersebut: Berliner Philharmonic Orchestra yang dipimpin oleh Herbert von Karajan, New York Philharmonic oleh Leonard Bernstein, dan Nikolai Esterhazy Sinfonia oleh Bela Drahos.

Dalam menggarap teori interpretasi, penulis berpatokan terhadap cara ketiga dirigen yang diteliti terhadap memahami sebuah karya musik. Melalui video pertunjukan, dapat disaksikan bahwa ketiga orkestra tersebut memiliki durasi permainan yang berbeda-beda. Berliner Philharmonic Orchestra memainkan sepanjang 7 menit 11 detik, New York Philharmonic sepanjang 8 menit 27 detik, dan Nikolai Esterhazy Sinfonia sepanjang 7 menit 4 detik. Melalui durasi ini saja seharusnya kita sudah dapat memiliki pemikiran kritis mengapa dapat terjadi perbedaan. Maka dari itu, penulis memutuskan untuk menggarap Teori Intepretasi.

Sejauh pengetahuan penulis, yang merupakan pemain piano juga, kebanyakan guru mengajarkan bahwa dalam menginterpretasikan sebuah karya cukup dibutuhkan musikalitas dan juga intuisi. Namun, penulis beranggapan bahwa ada sebuah penekanan kognitif yang dapat diusahakan di samping kedua hal tersebut. Tidak bermaksud untuk membuat dikotomi, namun dengan menggagas sebuah teori kognitif sehingga musikalitas dan intuisi dapat terbentuk pada setiap pelaku seni.

Terdapat beberapa kerangka yang ditekankan dalam pembentuk yaitu: 1). Perlunya seorang interpretator memiliki pengetahuan mengenai teori musik sebagai landasan pikir. Dasar-dasar terhadap apa yang perlu dipahami untuk dapat memainkan sebuah karya musik. 2). Memahami semangat zaman ketika karya tersebut dibuat, sehingga dapat tersampaikan pesan yang ingin diungkapkan melalui karya tersebut kepada para pendengar dan penikmat musik. 3). Menggunakan prinsip dari Gadamer, yaitu: understanding, interpretation, dan application.

Dapat disimpulkan bahwa dengan untuk dapat sampai ke tahap interpretasi, maka dibutuhkan sebuah fase pemahaman (understanding). Poin ke-1 dan ke-2 merupakan sebuah usaha yang dapat dilakukan untuk dapat masuk ke dalam fase pemahaman. Kemudian fase interpretasi dapat terjadi melalui proses pemahaman. Sehingga aplikasi yang bersifat penerapan terhadap orkestra yang dipimpin oleh seorang dirigen, sekiranya dapat terlaksana sesuai dengan apa yang sudah dipahami.

Sehingga demikian, terlihat bagaimana kompleksitas proses interpretasi musik Beethoven ini hingga sampai ke telinga pendengar. Bberapa aspek lain juga muncul untuk kemudian juga perlu diteliti bersama yakni proses negosiasi lanjutan yang terjadi antara dirigen dengan pemain orkestranya dan juga negosiasi dengan pendengar yang menikmati pertunjukan musik yang belum tergarap dalam penelitian ini. Meski demikian, penelitian ini adalah gerbang pembuka proses yang terjadi ketika seorang dirigen menyuguhkan musik kepada penontonnya.

~Jeannette Regina adalah seorang lulusan jurusan Filsafat dari Universitas Indonesia dan juga lulusan Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM). Tulisan ini juga merupakan bagian dari skripsi yang telah diujikan untuk kelulusannya dari Universitas Indonesia.

Iklan

2 Comments on Teori Interpretasi: yang terlupakan di balik makna intuisi dan musikalitas

  1. Hal mendasar yang tidak disebutkan dari tulisan tentang interpretasi di atas adalah studi gaya musik komposernya sendiri. Para komposer besar, biasanya, telah memiliki idiom-idiom pribadi. Oleh karena itu ada ornamen J.S. Bach, L.v. Beethoven, dan ada ornamanen gaya W.A. Mozart.

  2. Memang tidak Pak, karena secara khusus penulis terjun ke dalam karya Beethoven Symphony no.5 sehingga ada semacam asumsi bahwa komposer yang sama menghasilkan gaya yang sama.

    Meski demikian mmg ada kedalaman yang masih dapat digali lebih lanjut, terutama dalam praktek interpretasi yang bergantung dengan perkembangan dunia akademik musik dan kelaziman yang sifatnya kultural. Misalnya menginterpretasikan karya Mozart yang sama, bisa jadi berbeda karena perbedaan waktu interpretasi dan kelaziman praktis yang dilakukan pada waktu tersebut contoh rekaman Karajan dari tahun 1960an dengan rekaman Hogwood dari tahun 2000an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: