Kabar Terkini

Melayangkan Harapan Berpijak Bersama JCP


Bumi tempat manusia berpijak, juga tempat harapan didirikan untuk menjangkau angkasa. Tanah bukanlah sekedar masa bumi, tetapi juga tempat membangun penghidupan yang baru, yang penuh harap akan masa depan yang lebih cerah. Dari dalamnya kreativitas bersemi, menangkap sejumput asa menciptakan keindahan.

Konser Jakarta City Philharmonic edisi 9 ‘Menggaru Akar Rumput Tanah Harapan’ mengambil tematik musik ‘Amerika Serikat’ juga membuat seluruh penonton yang penuh memadati Teater Jakarta memikirkan kembali bumi tempat mereka berpijak. Musik menjadi arena pergulatan manusia mencari identitas lewat fenomena bunyi dan suara, mendefinisikan kembali keterpautannya dengan sebidang tanah yang mereka sebut sebagai rumah.

Garapan cemerlang Andreas Arianto Yanuar berusaha menjawab pergulatan identitas bunyi musik seorang Indonesia. Revolt in Paradise yang menggaungkan Indonesia lewat motif 4 nada lagu kebangsaan membawa penonton memikirkan kembali Tanah Air Indonesia yang bergejolak di era revolusi kemerdekaan, gejolak yang belum usai 72 tahun sesudahnya. Dalam karya baru yang diperdanakan dunia ini dan membuka seluruh pergelaran, gelagat orkestra yang dinamis dan sesekali merasuk dalam melodi indah membalut permainan solo harpa Rama Widi yang menggambarkan keteduhan dan juga carut-marut perjuangan lewat permainan yang virtuosik.

Apa yang menjadi pergulatan identitas agaknya juga terjadi di Amerika Serikat, tepatnya setelah Perang Saudara di mana di paruh kedua abad ke-19 sebagai bangsa baru, Amerika Serikat berusaha mencari kembali makna menjadi seorang Amerika. Dan dalam pertunjukan malam ini, di bawah arahan Budi Utomo Prabowo, Jakarta City Philharmonic menggambarkan pergulatan mencari identitas tersebut lewat perjalanan bunyi yang disajikan oleh para komponis AS.

Aaron Copland adalah salah satu komponis yang pertama Amerika yang berusaha menjawab pertanyaan tersebut dengan mencari akar bebunyian lewat pendidikan musik yang sempat ia tempuh di Prancis. Dari sana ia mengembangkan idiom musik yang kini dikenal sebagai warna musik klasik Amerika yang identik dengan The Wild West. Appalachian Spring adalah judul karya yang dibawakan di kesempatan pertama. Sebagai salah satu repertoar standar klasik orkestra, karya ini menjadi tonggak perkembangan sejarah musik Amerika Serikat yang mencari identitasnya di abad ke-20.

Leonard Bernstein lewat pembaharuannya atas kisah cinta dua sejoli Romeo & Juliet, menciptakan gebrakan lewat drama musikal West Side Story yang malam kemarin kita saksikan lagu-lagu pilihannya lewat medley yang diaransemen oleh Jack Mason. Irama latin menjadi warna inti keindahan musikal yang digarap dengan cerdik oleh komponis yang menggabungkan keterampilan komposisi klasik dengan warna Kuba dan Puerto Rico yang membahana di jalan-jalan New York tahun 1930-an. Pembawaan yang asyik juga tenang, diikuti kolase yang dinamis, juga melodi yang familiar di telinga menjadikan karya ini begitu indah untuk dinikmati.

Di babak kedua, George Gershwin membawa cita rasa lain dari perjuangan mencari identitas musik di tanah harapan. Tidak lengkap rasanya apabila Amerika tidak menyuguhkan musik yang berevolusi dari tanahnya sendiri yakni jazz. Karya Concerto in F ini mengeksplorasi keindahan dan kekayaan irama Charleston dan Blues yang membangun karya ini secara lengkap sebagai sebuah konserto yang mengangkat tradisi kulit hitam dan memecah dikotomi musik serius dan hiburan.

Pianis Stephen Kurniawan Tamadji hadir dengan permainan yang perkasa dan kontrol yang luar biasa pada instrumen piano. Permainannya yang ekspresif dipadu dengan keterampilan dan proyeksi musikal yang luar biasa menghidupkan permainan jazz di depan penonton malam itu. Pendekatan pianis yang mengecap pendidikan di Eastman School of Music, New York terdengar bergitu otentik dengan tetap berpegang pada kecakapan musikal pianistik Eropa, namun dengan cita rasa jazz yang terasa. Permainannya terasa begitu cemerlang, Stephen yang lebih dikenal lewat group vokal pop Warna menunjukkan natur aslinya sebagai pianis virtuos kawakan Indonesia.

Jakarta City Philharmonic tampil memukau di bawah arahan Budi Utomo Prabowo. Intensitas musik dan permainan warna semakin terasa lewat orkestra yang kini genap berusia satu tahun ini, menunjukkan penggarapan yang semakin matang meski persoalan intonasi di beberapa seksi tiup sempat menghantui permainan beberapa saat. Budi Utomo Prabowo sendiri tampil dengan luwes sekaligus jernih membawakan beragam gaya yang hadir dan sedemikian jelas, terlebih mengingat kompleksitas karya-karya yang dibawakan dengan permainan irama yang cenderung ireguler. Dampaknya cukup terasa, beberapa saat dalam karya Appalachian Spring dan Concerto, orkestra terdengar steril dan kaku sehingga terkesan tergesa dalam membawakan kalimat musikal yang seharusnya dapat lebih ekspresif dan menggugah. Meski demikian Jakarta City Philharmonic tampil memukau semalam.

Kepindahan dari Gedung Kesenian Jakarta ke Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki pun tidak sia-sia. Kursi-kursi tetap terisi penuh meski kapasitas bertambah 700 kursi dan seluruh penonton puas oleh konser semalam. Pertunjukan ini bukanlah diselenggarakan untuk sekedar ada, tetapi sungguh untuk menyajikan musik berkualitas, menyasar lebih banyak telinga dan membukakan akses bagi lebih banyak penonton untuk menyaksikan pertunjukan ini, sebuah penyelenggaraan musik untuk kepentingan publik.

SIMAK JUGA: Perspektif lain atas konser JCP Edisi ke-9 ini lewat ulasan Andre Loong: Sebuah Perjalanan ke Negeri Paman Sam atau pandangan lain dari kontributor utama JC Pramudya Natal: Potret Musikal Pencarian Identitas.

Iklan
About mikebm (1302 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Sebuah Perjalanan ke Negeri Paman Sam – A Musical Promenade
  2. Potret Musikal Pencarian Identitas – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: