Kabar Terkini

Sebuah Perjalanan ke Negeri Paman Sam


~oleh Andre Loong

Secara eksplisit, JCP (Jakarta City Philharmonic) sedang membawa para sahabatnya ke negeri paman Sam dalam konser rutinnya yang ke-9 ini. Bagaimana tidak jika pilihan lagu yang dibawakan pun tidak terlepas dari gubahan lagu komposer Amerika, antara lain Aaron Copland, Bernstein dan Gershwin. Tetapi hal yang menarik dari penampilan malam itu adalah tempat konser yang tidak sama seperti sebelumnya. Tertantang dengan jumlah penonton yang semakin bertambah, JCP memberanikan dirinya mementaskan konser ke-9-nya di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki yang notabene dua kali lipat kapasitasnya daripada konser-konser sebelumnya. Tapi memang pilihan memindah tempat konser ini tepat karena dari 1000 bangku penonton ini, jumlah bangku kosongnya hanya segelintir saja.

Seperti yang luar biasanya, lagu Indonesia Raya berkumandang di udara tanda konser telah dimulai, namun motif 3 nada awal dari lagu ini tetap saja terdengar sewaktu konser ini berjalan. Pementasan pertama dimulai dengan Revolt in Paradise karya dari Andreas Arianto Yanuar ini memang terinspirasi dari 3-4 nada awal dari Indonesia Raya. Bermodalkan dari motif tersebut, komponis muda berbakat ini mampu menghenyakkan khalayak ramai dalam balutan pentatonik nada Jawa & Bali dengan balutan solis harpa yang membawakan warna suara berbeda mampu membuat malam itu menjadi syahdu. Ditambah dengan solis malam itu adalah Rama Widi. Harpis Indonesia yang namanya sudah melanglang buana hingga ke Austria dan sudah menjadi tamu langganan Bangkok Philharmonic Orchestra.

Aaron Copland dalam komposisinya Appalachian Spring seakan membawa penonton memasuki penerbangan dan menikmati keindahan benua Amerika dalam satu suita delapan bagian tanpa istirahat. Memang ada perdebatan diantara maestro-maestro dunia mengenai interpretasi dari lagu ini. Beberapa menyatakan bahwa lagu ini berkisah mengenai pegunungan Appalachian yang terbentang di Timur benua dari Selatan Amerka hingga mengarah ke Kanada. Tetapi beberapa ahli musikologi berpendapat lagu ini lebih banyak menceritakan keseluruhan benua Amerika dari Timur hingga Barat. Walaupun masih terjadi perdebatan di sana-sini, namun inti dari lagu ini adalah kisah tentang keindahan benua Paman Sam itu sendiri yang memang keindahannya bisa terpancar dari cuplikan-cuplikan melodi yang khas dari Amerika.

Sembari menikmati keindahan alam negeri harapan ini, kita dibawa ke musik Broadway dengan menyuguhkan kemegahan kota New York. Bernstein berhasil mengangkat West Side Story ke Hollywood hingga mendapatkan 10 piala Oscar. Berbagai macam kisah dilagukan dalam komposisi yang sarat makna dan penuh drama dimulai dari Romeo dan Juliet modern hingga tarian imigran asal Puerto Rico di tempat olahraga. Aransemen khusus dari gubahan lagu ini dari Jack Mason dimainkan khusus pada konser malam itu.

Akhirnya konser ‘Menggaru Akar Rumput Tanah Harapan’ ini pun ditutup dengan kedatangan bintang tamu pianis ternama Stephen Kurniawan Tamadji yang membawakan konserto untuk piano dan orchestra dalam F mayor. Sejak detingan piano pertama saja, suara piano sudah sangat terasa bisa tergabung menjadi satu harmoni dengan orchestra. Apalagi ditambah dengan gerakan cepat dan lincah dari jari pianis memainkan oktaf yang cepat, seolah penonton sungguh sangat terpuaskan. Suara gemuruh tepuk tangan dari antusiasme penonton sungguh tidak terbendung padahal Stephen dan JCP baru saja menyelesaikan bagian yang pertama. Belum lagi ditambah dengan gerakan kedua dan ketiga yang memaksa Stephen untuk maju sekali lagi membawakan lagu tambahan khusus untuk membawa sahabat JCP pulang dengan kepuasan tak ternilai.

Seakan bisa pulang tanpa beban karena sudah dikenyangkan dengan suguhan musik yang tak terkira indahnya, sahabat JCP kali ini harus pulang dengan antusiasme lebih lagi. Bagaimana tidak jika pada waktu sudah meninggalkan kursinya, pengumuman dari pembawa acara menyatakan bahwa konser berikutnya akan diadakan pada bulan yang sama di tanggal 20. Tidak seperti biasanya yang diadakan sebulan sekali, kali ini JCP akan mengadakan konser rutinnya yang ke-10 di bulan yang sama dengan entah repertoar seperti apa. Bagaimana rasa kelanjutan dari orchestra super kreatif ini?

SIMAK JUGA: Perspektif lain Michael B. Mulyadi atas konser JCP Edisi ke-9 ini lewat ulasan: Melayangkan Harapan Berpijak Bersama JCP atau pandangan lain dari kontributor utama JC Pramudya Natal: Potret Musikal Pencarian Identitas.

~ Andre Loong, LRSM adalah lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya dan juga seorang  pengajar music gesek di Suzuki Music Association of Indonesia (SMAI) dan sebagai konduktor pada organisasi All Jakarta Honor Orchestra (AJHO) juga penggerak Kelas Inspirasi dan Transjakarta Symphony. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: