Kabar Terkini

Peran Orangtua dalam Berlatih Musik


~oleh Andre Loong

Pernahkah kita sebagai orangtua merasa mengikutsertakan anak kita dalam kursus musik tetapi ternyata anak kita tidak berbakat sama sekali atau mungkin sudah setahun mengikuti kursus musik tetapi tidak ada hasil pasti dari anak kita? Sebagai seorang pengajar musik, pernah beberapa kali orangtua bertanya kepada saya mengapa anaknya tidak berbakat sama sekali dalam bermain musik. Sebenarnya saya adalah tipe orang yang lebih mempercayai nurture daripada nature. Maksudnya anak kita tidak mungkin terlahir sebagai seorang musisi atau penyanyi yang mahir dalam mengolah nada tetapi mereka lebih cenderung belajar bagaimana mengasah kemampuannya dalam bermusik.

Jadi kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan kemampuan bermusiknya, kemungkinan ada hal lain yang mempengaruhi. Pernah dalam beberapa pembicaraan dengan orangtua didik, saya bertanya mengenai jadwal latihan anaknya. Ternyata memang tidak hanya segelintir orangtua yang mengalami kasus kesusahan dalam mengajak anaknya berlatih musik, banyak orang mengalami hal serupa bahkan mungkin semua orangtua harus mengalami masa-masa dimana anak mereka tidak mau berlatih musik sama sekali. Oleh karenanya, orangtua harus mampu berpikir kritis dan kreatif tetapi tetap dalam koridor asyik dalam mengajak anaknya berlatih musik.

  1. Buatkan jadwal rutin bersama dengan anak kita
    Jadwal sekolah yang semakin padat terkadang membuat anak selalu mempunyai alasan khusus untuk menghindari kewajibannya dalam berlatih alat musiknya. Tetapi orangtua yang aktif dalam membuat dan mengingatkan jadwal untuk berlatih musik kepada anaknya akan lebih membuat anak merasa bahwa jadwal berlatih musik memang sudah merupakan kewajibannya dan tidak bisa digantikan dengan jadwal bermain atau menonton TV. Buatlah jadwal yang rutin seperti 30 menit sebelum makan malam atau sesudah makan malam. Atau mungkin bisa juga dibuat bangun pagi 30 menit lebih awal untuk berlatih musik sebelum memulai aktifitas harian.
  2. Jadilah bagian di dalam jadwal latihan mereka
    Terkadang anak akan merasa bahwa kewajibannya dalam berlatih musik merupakan kewajibannya seorang saja dan tidak ada penghargaan apapun dari sekitar mereka. Akan menjadi hal lain jika orangtua hadir, duduk dan memang sengaja mendengarkan anak mereka berlatih musik di depan mereka. Bisa juga membuat konser mini untuk anak kita dan penontonnya hanya kita seorang. Jadikanlah waktu latihan anak kita ini menjadi waktu istirahat kita sebagai orangtua sesudah melalui kesibukan kita sebagai orangtua dan pekerja di luar. Anak pun akan diajarkan untuk menghargai orangtua mereka dengan bermain dan berlatih sebaik mungkin agar kita disenangkan dengan permainan musik mereka. Namun, satu hal yang pasti bahwa kehadiran kita di tempat tidak dapat digantikan dengan teknologi (video call) walaupun ada teknologi yang mendukung tetapi wujud fisik kita yang berada di dekat mereka akan memotivasi mereka lebih daripada teknologi.
  3. Perbanyaklah memuji sebagai orangtua
    Memuji memang bukan perkara yang mudah bagi kita terlebih apabila kita dibesarkan di keluarga yang jarang pujian.  Pula, jika tenaga kita sudah disedot di dunia kerja dan kita masih harus berhadapan dengan anak kita dengan sejuta kesalahan yang dibuatnya. Tetapi berangkat dari pujian ini, anak kita akan termotivasi untuk mendapatkan pujian lain. Misalkan pada waktu mereka sedang berlatih dan kita baru sadar waktu itu juga, kita bisa menjadi orang pertama yang bisa berkata ‘Terima kasih nak, sudah mau berlatih musik’. Atau pada waktu mereka memainkan satu lagu dan ada tiga kesalahan dalam lagu tersebut, daripada kita mengkritik bagian yang salah kenapa kita tidak memuji karena dia sudah berhasil menyelesaikan lagu tersebut. Justru dari satu apresiasi dan pujian ini akan banyak membuat anak kita merasa dihargai sehingga mereka akan mengulang dan memperbanyak latihan mereka dan akhirnya akan membuat kebiasaan mereka untuk berlatih karena mereka benar-benar merasa dihargai.
  4. Buatlah tujuan yang pasti
    Berlatih musik tanpa tujuan pasti akan membuat anak merasa tidak ada gunanya berlatih musik. Hal yang sama jika mereka harus bersekolah tanpa tahu tujuan akhir mereka bersekolah. Oleh karenanya, buatlah tujuan yang pasti seperti ujian demi mendapatkan sertifikat atau pencapaian tertentu bagi mereka. Hal ini bisa dibuat menjadi tujuan secara long term dan short term. Long term bisa berupa konser atau ujian yang akan dilangsungkan 3 atau 4 bulan ke depan yang jangka waktunya panjang dan kegiatan yang dilakukan tidak setiap hari sedangkan untuk tujuan short term bisa dilakukan seperti apabila mereka berhasil berlatih dengan baik, mereka bisa mendapatkan point yang mana point tersebut bisa ditukar dengan jadwal jalan-jalan ke tempat tertentu atau mengunjungi kakek nenek mereka di kampung halaman. Apabila mereka sudah diberikan tujuan yang pasti dalam berlatih, mereka bisa mempunyai gambaran yang jelas ke depannya dan karena hal tersebut akan memotivasi mereka secara langsung.

~ Andre Loong, LRSM adalah lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya dan juga seorang  pengajar music gesek di Suzuki Music Association of Indonesia (SMAI) dan sebagai konduktor pada organisasi All Jakarta Honor Orchestra (AJHO) juga penggerak Kelas Inspirasi dan Transjakarta Symphony. 

Iklan
About mikebm (1302 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: