Kabar Terkini

Merefleksikan Profesi Musisi Orkestra


~oleh Yasril Adha, dituliskan perdana di halaman FB pribadi

Menjadi musisi orkestra, berat atau enteng?

Kesedihan saya merasa kehilangan seorang teman hari ini mendorong saya untuk menulis hal yang sebenarnya sudah ingin saya lakukan dari dulu. Tentang pekerjaan musisi, terutama musisi orkestra yang kebetulan sudah begitu lama saya lakoni.

Pekerjaan sebagai musisi orkestra pada dasarnya adalah sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Apalagi kalau dilihat dari perspektif luar, penonton, penikmat musik maupun orang-orang yang hanya mengetahui sedikit tentang profesi ini. Terlihat asik, elegan dan keren karena berada dalam lapisan elite dunia seni pertunjukan, dan juga karena pekerjaan ini cuma berada dalam ranah ‘kebutuhan sampingan’ manusia yaitu ranah hiburan, ranah yang tidak vital menentukan hidup mati seseorang, ranah yang ada atau tidak ada manusia tetap akan bisa tetap menjalani hidupnya sehari-hari. Terkesan enteng, tidak penting dan terkesan sangat jauh dari tekanan.

Sebenarnya anggapan tersebut ada benarnya, pekerjaan ini bisa disebut sebuah pekerjaan yang menyenangkan, termasuk ketika proses produksi sampai kepada hasil akhir sebuah pertunjukan. Dalam setiap prosesnya selalu ada romantika, gelak canda, interaksi sosial yang akrab dan intim diantara sesama pelaku-pelakunya, sama-sama merasa satu nasib dalam kelompok yang mempunyai tanggungjawab dan beban yang sama. Setelah itu selalu ada teriak kepuasan, kelegaan dan kebanggan bersama-sama ketika berhasil melewati sebuah tantangan. Orang-orang yang berhasil masuk dalam lingkungan profesi ini adalah orang-orang mempunyai bakat dan mentalitas terpilih sesuai dengan minat dan kebutuhan estetika spritual mereka akan keindahan, terutama dalam hal bunyi. Pekerjaan ini juga mempunyai level dan frekuensi kepuasan batin yang tinggi. Selalu terasa menyenangkan pada setiap keberhasilan pencapaian untuk sebuah tingkat pertunjukan yang diinginkan.

Namun ada satu fase yang tidak terlihat secara nyata dibalik itu semua. Fase yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh pelaku-pelaku yang menjalaninya, yaitu proses pembentukan karakter dan proses musikal menuju arah kepuasan tersebut. Di sinilah terdapat tekanan yang akan selalu menjadi teman setiap musisi terutama musisi, terutama musisi orkestra.

Musisi orkestra adalah orang-orang terpilih yang mempunyai bakat musik dan mentalitas yang unggul, bahkan sejak mereka baru dilahirkan di dunia. Di sana ada tuntutan aspek bakat, musikalitas, mentalitas, kesempatan, lingkungan, kerja keras, pantang menyerah, pengorbanan materi dan waktu, dan yang pasti adalah aspek ketahanan fisik. Untuk bisa menjadi musisi yang berkarakter hampir semua aspek di atas harus dipenuhi karena tanpa itu semua akan susah bersaing dalam memperebutkan tempat sebagai seorang musisi pilihan. Semua aspek diatas sekaligus juga merupakan tekanan-tekanan yang dihadapi musisi orkestra sejak mereka memulai untuk memutuskan berada dalam bidang profesi ini sampai mereka menjalaninya sebagai pilihan hidup mereka. Pendek kata mereka harusnya adalah orang-orang yang tangguh kalau mau bisa masuk dan bertahan dalam profesi ini.

Tekanan lain yang akan selalu menemani seorang musisi orkestra adalah dalam hal musiknya sendiri. Musik orkestra, terutama musik klasik adalah musik yang sudah mempunyai ukuran, standar, konsep musikal dan aturan-aturan estetika tertentu dan terukur. Aspek estetika tersebut dilahirkan melalui teknik yang juga terukur yang sudah diasah melalui perjuangan dan pengalaman bertahun-tahun. Selalu ada tekanan rasa tanggungjawab ketika seorang musisi harus melahirkan bunyi yang menjadi bagian dari tuntutan estetika tersebut. Tekanan seperti ini tidak bisa dibilang ringan, apalagi ketika mereka harus berhadapan dengan kondisi yang menuntut standar tinggi melalui sosok conductor dan audien serta tempat pertunjukan yang ‘seram’. Dalam kondisi ini tingkat stress dan tekanan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seorang musisi, tekanan yang lahir dari rasa tanggungjawab besar. Adalah tidak tertutup kemungkinan tekanan tersebut suatu saat sudah berada diluar batas kekuatan seorang musisi orkestra yang bisa jadi akan menimbulkan akibat yang buruk, kita tidak pernah tahu.

Adalah hal yang bijak kalau kita selalu belajar dari pengalaman, baik atau buruk.

~Yasril Adha adalah musisi kawakan Indonesia, sebagai pemain biola dengan pengalaman 25 tahun sebagai pemain orkestra. Saat ini, Yasril Adha aktif sebagai pendidik musik di sekolah dan aktif sebagai pemain biola di berbagai orkestra seperti Jakarta City Philharmonic, Twilite Orchestra, Jakarta Simfonia Orchestra dan beberapa orkestra lain ibukota.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: