Kabar Terkini

Untaian Harmoni dalam Simfoni Pertiwi


~oleh Andre Loong

Hati ini berat sekali ketika harus mengumumkan bahwa Senin malam kemarin(20/11/2017) adalah konser terakhir JCP (Jakarta City Philharmonic) di tahun ini. Tetapi sebenarnya untuk memasuki musim yang baru, memang kita harus menutup musim yang lalu. Setelah bertanding dengan standar repertoar internasional selama sembilan episode, memang konser kesepuluh layak diisi dengan penganugerahan dan bilangan bintang tamu dan peluncuran buku ‘Antologi Musik Jazz dan Populer’ yang mengisi konser

Berangkat dari visi bahwa setiap kalangan berhak menikmati musik klasik dengan cipta rasa tinggi dan standar internasional, JCP mampu menawan hati kalangan rakyat proletar dan borjuis. Hal ini terlihat jelas dari penonton yang memenuhi Taman Ismail Marzuki dengan kendaraan mewah dan beberapa yang datang dengan kendaraan umum. Tetapi visi ini tidaklah sedangkal itu, JCP juga melihat masyarakat Indonesia dalam konteks yang lebih detail lagi sehingga dalam beberapa konsernya, pilihan lagu yang dibawakanpun adalah lagu yang mengangkat tema permasalahan sosial yang kompleks di masyarakat, seperti diskriminasi dari kalangan mayoritas kepada kaum minoritas yang didukung pula dengan penerapan kebijakan pemerintah yang semakin memperkeruh situasi diskriminatif itu.

Dalam sambutannya bapak Triawan Munaf selaku ketua Badan Ekonomi Kreatif menyatakan bahwa musik klasik bukanlah prioritas utama dari lembaga ini, tetapi melihat dari antusiasme masyarakat Jakarta yang bertambah dari konser ke konser, memang kelihatannya kota sebesar Jakarta haruslah memiliki satu orkestra simfonik sendiri. Tertantang dengan menciptakan identitas khusus yang mampu membedakan orkestra kota Jakarta dengan kota besar lainnya di dunia, akhirnya JCP mampu merampungkan musim konser tahun 2017 disertai kesuksesan dari tantangan itu dengan pertumbuhan kuantitas penonton dan kualitas musik yang mampu bersaing dengan orkestra simfoni kota lainnya di dunia.

Edisi ke-10 ini JCP menampilkan Fafan Isfandiar sebagai pengaba tamu dan Budi Utomo Prabowo selaku pengaba tetap untuk menampilkan warna musik khas Indonesia. Ditemani dengan beberapa penyanyi profesional seperti Melly Goeslaw, Rahel Paradika Purba, Monita Tahalea, Indra Aziz dan Maruli Tampubolon, mereka mampu berkolaborasi menampilkan keunikan citarasa musik Indonesia. Melly Goeslaw membuka konsernya dengan lagu karangannya yang sempat hits di pasaran seperti Cinta Sejati, Ayat-ayat cinta, dan Ada apa dengan cinta. Sungguh sebuahpembuka yang penuh haru. Alunan melody yang didominasi warna tangga nada minor membuat penonton terhanyut dalam syahdu lagu yang penuh dengan untaian melodi cinta.

Aisha Sudiarso Pletscher pun melanjutkan kesyahduan dengan menarikan jemarinya di atas piano dengan karya konserto piano Yazeed Djamin, komponis yang berkarya di era 1990-an yang mengkreasikan dalam lagu Ismail Marzuki ‘Sepasang Mata Bola’. Dalam lagu ini, nuansa konserto piano Rachmaninoff sempat berasa tetapi dalam aransemen ini, pentatonik Nusantara terdengar kental di dalam karya yang mampu membedakannya dengan karya maestro yang berkarya di penghujung masa romantik ini. Tidak dapat dipungiri bahwa Yazeed Djamin yang juga adalah seorang pianis banyak terinspirasi dari Rachmaninoff dan banyak menggunakan waktu luangnya dengan mendengarkan karya-karya dari komposer besar Rusia ini.

Selain dari Ismail Marzuki, ternyata Indonesia juga mempunyai komponis Mochtar Embut yang namanya juga mencuat ke kancah internasional. Bagaimana tidak jika semasa hidupnya, beliau menulis lebih dari 100 lagu baik untuk instrumen solo hingga kolaborasi vokal dengan instrumen. Namun karena karakternya yang pemalu dan tidak menyukai popularitas, nama komponis besar ini hanya diketahui segelintir masyarakat saja. Tetapi untuk urusan harmonisasi dan musikalitas, beliau layak disandingkan dengan musisi kelas dunia. Oleh karenanya, JCP berikhtiar untuk menampilkan salah satu karyanya yang berjudul Di Wajahmu Kulihat Bulan lewat nyanyian lembut Rahel Pradika Purba. Unsur jazz Nusantara ternyata masih bisa kita temui dari beberapa nama seperti Iskandar, Leo Masengi, Paul Irama, dan Melly Goeslaw.

Dalam beberapa lagu yang ditampilkan, nuansa jazz yang kental bisa terdengar dari progresi chord dan ritmik yang dimainkan. Suasana yang ditampilkan dalam balutan musik jazz ini pun sangat beragam. Namun kita masih bisa menikmati nuansa syahdu dari Monita Tahalea dalam lagunya Mutiara Selatan karangan Iskandar. Indra Aziz dalam lagunya Pergi Tanpa Pesan seolah membuat penonton terkesima dalam ketenangan tetapi ketika Rahel membawakan lagu Kucoba Lagi, penonton juga terhenyak dalam lagu yang lebih beritme riang. Dua lagu berikutnya berjudul Sabda Alam dan Wanita karya Ismail Marzuki pun seolah membawa audiens ke nuansa tahun 1950-an yang penuh dengan memori.

Tak heran jika beberapa penonton penuh uban terlihat sangat menikmati kedua lagu ini sampai-sampai terlukis senyum lebar di wajahnya. Akhirnya dalam lagu Sio Mama yang dibawakan secara duet oleh Maruli Tampubolon dan Monita Tahalea mampu mengakhiri konser malam itu dengan penuh keceriaan. Tetapi tak sampai disana saja, penonton diberikan kejutan yang membuat beberapa orang sampai bertepuk tangan histeris karena grup musik ‘Potret’muncul secara tiba-tiba di akhir acara membawakan lagu I Just Wanna Say I Love You.

Tak heran jika konser kali ini benar-benar menunjukkan keberagaman. Mulai dari pengaba dan solois yang beragam, komponis dan pengaransemen juga bervariasi mulai dari Anto Hoed, Irsa Destiwi, Mohammad Attar, Azfansadra Karim, Ricky Lionardi, Hariopati, hingga Lie Indra Perkasa. Semua ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita bahwa Indonesia dibangun bukan berdasarkan dari satu suku atau golongan saja, bahkan dari beranekaragam latar belakang pun bisa menciptakan sebuah konser bertajuk ‘Senandung Simfoni Pertiwi’. Benar-benar sebuah mahakarya untuk Ibu Pertiwi.

~ Andre Loong, LRSM adalah lulusan Universitas Widya Mandala Surabaya dan juga seorang  pengajar music gesek di Suzuki Music Association of Indonesia (SMAI) dan sebagai konduktor pada organisasi All Jakarta Honor Orchestra (AJHO) juga penggerak Kelas Inspirasi dan Transjakarta Symphony. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: