Kabar Terkini

Jakarta City Philharmonic dan Cita-Cita Masyarakat Ideal


~oleh Andreas Arianto

Satu tahun, layaknya balita, adalah usia yang sangat belia bagi sebuah orkestra. Melewati satu tahun dari masa kelahiran hingga mulai bisa berjalan dan berbicara sedikit kata, demikian pula perbandingannya dengan pertumbuhan orkestra Jakarta City Philharmonic (JCP). Cukup berbeda dari orkestra lainnya di Jakarta, JCP mengemban misi yang unik dan perlu, yaitu memainkan karya-karya simfonik yang ditulis setelah era Romantik, terutama memainkan karya para komponis Indonesia.

Dalam perbendaharaan repertoar musik simfonik, karya-karya yang ditulis di jaman Romantik memang dianggap sebagai karya-karya standar bagi orkestra-orkestra simfoni dunia karena bahasa musikalnya sangat luas berkembang ketika itu. Apalagi yang ditulis setelahnya, lebih tinggi lagi standarnya bagi para musisi dan dirigen, juga bagi para pendengarnya.

Misi mulia ini mereka jalankan lewat persembahan konser rutin tiap bulannya sejak November 2016 hingga November 2017 ini.

Kenapa misi ini perlu dijalankan?

Suatu orkestra simfoni melibatkan banyak sekali jumlah musisi dengan alat-alat musik yang beragam juga jenis dan warna bunyinya. Ketika instrumen-instrumen ini berbunyi bersamaan, ada begitu banyak kemungkinan musikal yang bisa dihasilkan, tergantung pada partitur yang ditulis oleh komponis atau penata musiknya, juga tergantung pada penguasaan alat dan musikalitas para musisi dan dirigennya. Sama layaknya dengan entitas seni pertunjukan komunal lainnya seperti grup teater, grup tari dan sebagainya, suatu orkestra adalah perwujudan dari masyarakat di mana ia bernaung. Ia adalah cermin dari keragaman di dalam masyarakatnya, juga dari bagaimana individu-individu yang berbeda satu sama lain ini bisa bekerja sama untuk menciptakan keindahan dan keselarasan.

Memang berbeda dengan seni pertunjukan lainnya, seni musik adalah satu bentuk kesenian yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diabadikan melalui fotografi, sifatnya sangat abstrak. Namun keabstrakan musik adalah juga kekuatannya. Secara umum dituntut kemampuan (dan kemauan) berpikir yang lebih kritis bagi penikmat musik simfonik bila dibandingkan dengan musik pop. Ada banyak sekali lapisan tekstur yang bisa diikuti dan dicerna ketika kita mendengarkan musik ini dengan aktif, bukan hanya mendengarnya sambil melakukan aktivitas lainnya. Memang dalam bahasa Inggris, ada perbedaan makna antara “to hear” dengan “to listen”.

Jakarta City Philharmonic terasa sangat pesat bertumbuh. Saya sendiri hampir setiap bulannya mengikuti perkembangan mereka selama ini dan menemukan bahwa para musisinya makin lama makin bisa membentuk warna bunyi yang sangat khas JCP. Ada kekompakan antar instrumen yang terasa makin rekat, ada juga keluwesan mereka dalam membentuk kalimat-kalimat musikal yang dituntut berbeda dari komponis-komponis yang berbeda gaya musik. Di sisi lainnya, dalam 1 tahun ini pun penonton setia JCP bisa merasakan ada perubahan pendekatan musikal yang agak merenggang ketika ada cukup banyak musisi JCP yang terpaksa harus digantikan pemain-pemain lain karena ada jadwal konser (dan latihan) yang berbenturan dengan jadwal kegiatan musikal lainnya di ibukota.

Yang juga menarik adalah hampir di setiap konsernya, selalu ada setidaknya 1 karya yang mereka mainkan dengan melibatkan 1 solis, seringnya solis piano, namun juga sempat ada solis klarinet, cello dan penyanyi di beberapa konser. Lewat kehadiran para solis ini, penikmat musik Jakarta makin menyadari keberadaan para instrumentalis (dari berbagai angkatan usia) dan tingkat permainan musik mereka. Dan saya sendiri cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa kebanyakan dari mereka ini punya standar yang sangat tinggi sebagai penampil solo.

Komposisi-komposisi baru karya para komponis lokal yang dimainkan pun juga memiliki standar yang tinggi untuk bisa dimainkan oleh musisi-musisi JCP. Karenanya dirigen dan musisi sama-sama terus memacu diri untuk berkembang karena tuntutannya datang tak hanya dari partitur karya komponis-komponis dunia, namun juga dari dalam negeri.

Ada struktur hirarki internal dalam suatu orkestra, dengan porsi tanggung jawab yang sangat teratur berjalan di dalamnya. Bukan tanpa alasan ada jabatan concertmaster dan prinsipal di tiap seksi instrumen orkestra. Dirigen sebagai direktur musik memang langsung terlihat sebagai pimpinan sebuah orkestra, di mana ia bertanggung jawab mengambil keputusan-keputusan musikal yang penting dalam mengeksekusi repertoar setiap konser. Bertanggung jawab secara langsung kepada dirigen adalah concertmaster, yang akan mengkoordinasi prinsipal-prinsipal setiap seksi instrumen lainnya. Sedangkan prinsipal inilah yang secara langsung mengambil keputusan detil terkait dengan misalnya arah gesekan bow, panjang-pendeknya suatu frase melodi, besar-kecilnya volume bunyi yang dihasilkan, tinggi-rendahnya intonasi, cepat-lambatnya suatu ritme dijalankan, berat-ringannya bobot suatu nada dimainkan, tajam-tumpulnya hentakan-hentakan dan sebagainya, yang mana keputusan-keputusan detil ini tak mungkin didikte seluruhnya oleh sang dirigen. Dengan keterbatasan waktu latihan, pastinya dirigen akan lebih banyak mengarahkan secara gambaran besar tentang bagaimana suatu partitur hendak diinterpretasi. Dari arahan inilah concertmaster dan prinsipal akan mengkoordinasikan keputusan-keputusan detilnya dengan pemain-pemain lain yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Seru ya? Apa lagi ini namanya kalau orkestra bukan perwujudan dari suatu masyarakat? Struktur organisasi suatu perusahaan pun juga akan berjalan sesuai dengan konteks budaya masyarakatnya, apalagi ketika kita bicara tentang suatu entitas seni.

Masyarakat Jakarta (dan sekitarnya) sangat beruntung bisa menikmati konser-konser gratis persembahan JCP, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Bekraf. Namun ternyata animo masyarakat makin tinggi bukan hanya karena tiketnya gratis. Ada sistem reservasi tiket yang akhirnya makin disempurnakan oleh JCP, DKJ dan Bekraf, sehingga walaupun gratis, 1 tiket itu sangat berharga nilainya. Bila sudah mendapat konfirmasi tapi penonton itu tidak hadir dan tidak mengabari, maka ia akan didaftar hitamkan sebagai penonton di konser berikutnya. Dengan sistem seperti ini ternyata jumlah penonton JCP malah makin bertambah banyak, termasuk ketika mereka kini sudah berpindah rumah dari Gedung Kesenian Jakarta yang berkapasitas 475 orang ke Teater Jakarta yang berkapasitas 1200 orang!

Tipe penontonnya pun juga beragam latar belakang sosialnya, semua ternyata memiliki kebutuhan yang besar akan akses ke pertunjukan musik yang berstandar tinggi. Di sinilah fungsi kesenian sebagai perekat elemen-elemen masyarakatnya dijalankan. Para seniman – beserta para filsuf, ekonom, pemuka agama, pembuat kebijakan – adalah pihak-pihak yang seharusnya bisa mendekonstruksi kelas-kelas masyarakat untuk kemudian merekonstruksi kembali tatanan masyarakat yang semakin ideal. Dekonstruksi dan rekonstruksi ini harus terus berlangsung supaya kita bisa terus mengupayakan terwujudnya masyarakat yang semakin saling menghargai satu sama lain, saling bekerja sama demi tercapainya keadilan sosial. Sekilas ini nampak seperti utopia, namun bukankah upaya untuk terus mengejar kesempurnaan ini akan membentuk diri kita menjadi pribadi yang semakin baik lagi? Dan bukankah menjadi manusia yang semakin baik bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar merupakan hakikat dari kehidupan yang utuh?

Manusia dari segala jaman, bangsa dan pengetahuan selalu berusaha menciptakan peradaban yang sebisa mungkin lebih baik dari yang sebelumnya. Nampaknya memang itulah cara kita untuk menemukan tujuan hidup. Dan tujuan hidup ini hanya bisa punya makna ketika kita benar-benar berusaha mewujudkannya dalam rentang waktu kehidupan kita yang cuma sementara ini di dunia.

Apakah sebuah lagu akan mampu menciptakan perdamaian dunia? Menurut saya tidak. Tidak secara langsung. Namun usaha-usaha yang sama yang diterapkan untuk menghasilkan lagu yang indah adalah juga usaha-usaha yang sama yang diperlukan untuk menciptakan masyarakat yang cinta keindahan, masyarakat yang semakin peka dan peduli akan lingkungannya, masyarakat yang mau berperan aktif dalam menciptakan perdamaian dan keadilan sosial.

Bagi saya, Jakarta City Philharmonic adalah salah satu usaha DKJ dan Bekraf untuk mengajak publik Jakarta menjadi masyarakat yang seperti itu.

Salam damai.

~ Andreas Arianto adalah komponis, penata musik dan dirigen yang kini banyak beraktivitas dengan Forteboy Music. Ia belajar komposisi musik dengan Bernd Asmus dan Otto Sidharta di UPH Conservatory of Music, juga aktif sebagai pemain klarinet dan akordeon dalam grup Andre Harihandoyo & Sonic People.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: