Kabar Terkini

Penata Suara yang Makin Diperlukan di Musik Klasik


Tata suara atau sound engineering kini berada sebagai salah satu ujung tombak dalam dunia musik. Dan dalam linkup terkini, musik klasik pun juga semakin lekat dengan keberadaan penata suara, terlebih apabila kita berbicara soal kota-kota di Indonesia yang belum tentu memiliki gedung dengan akustik yang memadai. Kita pun juga berbicara soal seniman musik klasik yang juga semakin bergantung dengan keberadaan media sosial dan elektronik.

Terlalu mudah banyak pihak menyamakan antara soundman yang berfokus sebagai tukang dengan sang penata – sound engineer, padahal keduanya merupakan dua hal yang sangat berbeda. Soundman lebih kepada pendamping yang berfokus sebagai buruh penataan suara, memasang dan mengangkat perlengkapan ke tempatnya, menyambungkan kabel dan menempatkan peralatan, sedangkan sound engineer bukanlah sekedar buruh, ia adalah seorang pekerja seni yang menata dan mengatur seluruh aspek bunyi agar sungguh sesuai dengan kebutuhan dan standar estetika yang mumpuni. Ia adalah insan kreatif yang memegang kunci sajian kepada pemirsa.

Keterampilan yang diasah secara mendalam oleh seorang penata suara tidaklah separuh-separuh dan dibarengi dengan pelatihan cita rasa dan nilai estetika bunyi yang tidak terjamah. Keterampilan mendasar ini berpangkal pada kemampuan mendengar secara mendalam dan kritis yang memampukan seorang penata suara memilah dan memilih suara yang didengar dan mampu menyikapinya mendetail. Keterampilan ini harus pula dibarengi dengan aspek keilmuan tentang bunyi, elemen fisik, elektronik, dan digital yang berkisar di atasnya. Seorang penata suara kemudian juga harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan koreksi atas suara yang didengarnya, mengubahnya dengan berbekalkan beragam perlengkapan elektronik, baik digital maupun analog, untuk kemudian menghasilkan suara ubahan sesuai yang diinginkan. Lapangan kerja pun beragam, dari menaklukan sebuah arena pertunjukan hingga menggarap musik rekaman.

Dunia musik klasik di Indonesia pun tidak lepas dari peran seorang penata suara, terlebih dengan berbagai kondisi yang ada di lapangan. Sebagai sebuah aliran musik yang mengutamakan pengalaman untuk mendengar secara mendalam dan kritis, peran seorang sound engineer pun semakin krusial, terlebih dengan beragam kondisi lapangan seni pertunjukan maupun semakin banyaknya rekaman yang harus dihasilkan untuk beragam kebutuhan.

Untuk kebutuhan pertunjukan, sistem pengeras suara dapat digunakan untuk menciptakan sebuah atmosfer akustik yang baik di ruangan yang tidak seberapa memadai. Pendekatan ini bisa jadi sangat sulit, karena seorang penata suara harus memiliki kapasitas menciptakan sebuah ruang imajiner melalui pengaturan suara, delay, reverb yang mampu menciptakan dimensi tersendiri yang masuk akal dan menyerupai sebuah ruang auditorium konser.

Sang penata suara juga perlu mengenal karakteristik suara setiap instrumen yang dimainkan secara akustik agar mampu menangkap beragam nuansa dan warna yang hadir dalam permainan instrumen tersebut. Selain mampu mengenali, ia pun harus mampu mereproduksi ulang bunyi yang dihasilkan melalui penyetelan perangkat yang ia miliki sehingga tidak terjadi degradasi kualitas bunyi yang terlalu besar. Belum lagi muncul tanggung jawab untuk menyeimbangkan amplifikasi agar tetap mampu menangkap kesatuan dari beberapa instrumen tersebut. Pun penata suara dalam suasana musik hidup juga harus tanggap dalam beragam kondisi yang muncul.

Kemampuan ini tidak hanya berhenti di ruang pertunjukan, tetapi juga harus dipraktekkan di dalam studio rekaman. Di dalam studio rekaman, kemampuan mengolah dan meneliti kualitas suara haruslah semakin paripurna. Penata suara juga bertugas untuk memotong, menyambung dan menempelkan beragam potongan rekaman musik menjadi satu lewat proses editing maupun mixing. Dalam kondisi musik hidup, spontanitas dan kegesitan yang diutamakan, di studio rekaman, justru ketelitian pada detail semakin diperlukan untuk mengasah hasil rekam hingga nyaris sempurna.

Peran kemampuan di studio rekam menjadi semakin penting dewasa ini dikarenakan pendekatan media baru yang menuntut setiap musisi klasik juga terlibat aktif dalam media rekam dan menghasilkan produk rekaman yang berkualitas. Hasil rekaman ini kemudian dapat dibagikan lewat sosial media, baik video maupun audio. Tidak sedikit hasil rekam yang kemudian dibagikan lewat Instagram, Youtube, dan akun media sosial lainnya. Semuanya tentu membutuhkan penggarapan yang tidak kalah berkualitas.

Dalam dunia pertunjukan dan seni rekam di Indonesia, belum banyak penata suara yang sungguh fasih dalam menata suara untuk musik akustik ala musik klasik. Beberapa faktor menjadi penyebab, di antaranya adalah bahwa banyak penata suara di Indonesia banyak yang muncul tidak melalui jalur pendidikan dan pelatihan yang memadai sehingga tidak memiliki wawasan dan keterampilan yang cukup untuk menggarap beberapa gaya musik, termasuk musik klasik yang membutuhkan wawasan akan warna suara, karakter instrumen dan karakter akustik yang berbeda dengan gaya musik lain.

Selain itu, karena kebanyakan dari penata suara terlahir lewat pelatihan di lapangan, minimnya pertunjukan musik klasik akhirnya menyebabkan sedikitnya kesempatan mereka untuk berlatih menata suara untuk musik jenis ini. Pun musik ini bukanlah musik yang populer untuk didengarkan sehingga kesempatan untuk mengulik dan juga referensi penggarapan suara tidak mudah untuk didapatkan. Penataan suara musik klasik tentunya memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena kepekaan pada detail kualitas suara sangat esensial. Tanpa referensi dan latihan yang cukup, ataupun minat yang kuat pada musik akustik macam ini penggarapan yang berkualitas tinggi mustahil dapat tercapai.

Seberapa banyak kita melihat rekaman orkestra yang disiarkan di video Youtube maupun di televisi publik sangat tidak layak untuk dipertontonkan? Jujur saja, terlalu sering. Bahkan beberapa kualitas rekaman tersebut sebegitu rendah sehingga dapat dikatakan merugikan mereka yang telah bermain dengan baik di atas panggung. Permainan yang baik di atas panggung justru dirusak oleh penata suara yang buruk lewat kualitas hasil amplifikasi yang rendah dan rekam siaran yang malah menyedihkan dan memalukan bagi pemusiknya.

Ya, sudah saatnya penata suara dianggap sebagai peran kreatif yang krusial dalam dunia musik dewasa ini. Mereka bukanlah sekedar pesuruh dan buruh. Mereka adalah pekerja yang harus memiliki kapabilitas sebagai seorang insan kreatif yang juga berkualitas dan pula harus diapresiasi dengan baik. Dan bagi para penata suara, tingkatkan terus kompetensi agar mampu memberikan kualitas yang terbaik lewat pelatihan dan pendidikan yang layak dan bukan sekedar jadi dengan hasil yang juga ala kadarnya.

Penata suara bukanlah profesi main-main. Merekalah seniman kunci yang menentukan apa yang didengar oleh penonton di luar sana. Keselamatan seluruh sajian musik yang ada akhirnya bergantung pada tangan dingin sang penata suara.

Iklan
About mikebm (1336 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: