Kabar Terkini

Bagaimana Wajah Musik Kontemporer Indonesia?


Perdebatan Indonesia kontemporer memang tidak akan pernah padam. Dunia musik pun akan terus berkontestasi tentang apa itu musik kontemporer Indonesia dalam gelut konsep dan praktik yang sejatinya terus berubah. Lalu seperti apakah wajah musik kontemporer Indonesia?

Beragam pemikiran tentang musik kontemporer Indonesia telah lahir sejak bergaungnya Pekan Komponis yang digagas oleh Dewan Kesenian Jakarta di medio 1970-an lalu. Berbagai pelaku dan pemikir musik pun telah mencoba mendefinisikan konsep ‘kontemporer’ lewat beragam tulisan, di antaranya Suka Hardjana, Slamet Abdul Sjukur, Franki Raden, Dieter Mack, Vincent McDermott dan banyak pemikir lainnya.

Namun apabila merujuk pada konteks kekinian di akhir dekade kedua abad ke-21, kontemporeritas menjadi ranah yang juga dikontestasikan di mana definisi yang dibuat sebelumnya tidak tentu mengikat di masa kini. Merunut konsep awal, ‘kontemporer’ merujuk pada apa yang terjadi pada masa yang berjalan dan menyebabkan kekinian berada dalam influks yang terus berubah dan bergerak. ‘Kontemporer’ tidak hanya berpijak pada kekinian, tetapi juga pada saling-silang budaya yang lahir di era informasi ini.

Karenanya diskursus bisa jadi adalah upaya nyata dalam menciptakan cuplikan nyata atas apa yang terjadi diwaktu tersebut lewat suasana lempar wacana yang terbuka dan bebas. Proses diskursus itupun dapat dibentuk lewat pementasan karya-karya terkini yang mewujud dalam peristiwa panggung.

Di atas pentas inilah, wacana dapat dibuka dan direkonstruksi kembali akan apa itu kontemporenitas dan wacana lalu lintas informasi global yang menjadikan ranah komposisi musik sebagai arena interaksi sekaligus perdebatan mengenai global dan lokal, sekaligus menilik kembali dampak dari hiruk-pikuk budaya terkini.

Dalam proses tersebut, Indonesia memang tidak memiliki banyak arena seperti yang disebutkan di atas. Yogyakarta Contemporary Music Festival adalah satu festival yang berfokus pada diskursus ini. Di sisi lain, Jakarta City Philharmonic dan Bandung Philharmonic memperkaya diskusi dengan mengentengahkan kontemporenitas yang sedikit berbeda, menambah keragaman wacana yang ada. YCMF digadang dengan menekankan konsepsi post-tonal, sedangkan orkestra kota mengusung musik tonal terbaru sebagai ruang gerak musik Indonesia terkini.

Selain dari pada itu, diskusi musik kontemporer justru terbatas di dalam ranah akademik (dalam karya resital akhir mahasiswa) dan tidak banyak menunjukkan taringnya di ranah publik. Beberapa pertunjukan lain muncul namun justru wacana ini lebih banyak diangkat oleh pelaku Indonesia yang kini berada di luar negeri. Hal ini bisa jadi disikapi dengan beragam perspektif: apakah sungguh dunia akademik dan internasional yang mendorong diskursus ini, ataukah justru hegemoni mereka yang menyebabkan diskursus ini dianggap sexy oleh pemusik lokal?

Mampatnya diskusi dan penyajian musik kontemporer di Indonesia menyebabkan suara yang tidak berimbang, bukan saja menyoal siapa saja diuntungkan dalam diskusi ini, tetapi juga menyoal apa dan bagaimana diskusi musik kontemporer terkini.

Arus global tidak dapat disangkal dan identitas individu musisi juga tidak mampu dielak. Di antara dilema dan saling serang di antara beragam mahzab, keduanya menjadi bahasan yang tiada habis dalam mengkaji kontemporenitas musik. Justru ketika diskursus dan pendirian itu lenyap dari pandangan, kita patut bertanya apakah ‘kontemporer’ itu masih ada di lanskap musik Indonesia?

Mungkin arena baru bisa menjawab pertanyaan di atas. Bisa benar, bisa tidak. Bisa jadi justru diskursus musik kontemporer Indonesia sudah menjauh dari hakikatnya sendiri, yakni dari ruang musikal dan temporalitasnya: musik-musik yang beredar kini dan sekarang.

 

Iklan
About mikebm (1310 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: