Kabar Terkini

Buster Moon, Sunyi, dan Pedagogi Ruang Kelas Musik


Mr. (guru musik) itu seperti seorang produser. Mr. itu melihat kelebihan dan kekurangan kita, mengatur posisi dan peran kita, dan menata penampilan (panggung) kita.”Celetukan tersebut tidak hadir dari Ken Robinson sang pedagog yang menyoroti kesenjangan pelajaran seni di Inggris Raya, atau seorang Prof. Endo Suanda yang giat menyebarkan pengajaran seni holistik (di penjuru) Nusantara. Celetukan itu hadir sederhana dari murid sekolah menengah atas penulis. Itu juga dilontarkan tidak di dalam diskusi serius ruang kelas, namun satu waktu jamak ketika latihan tambahan dibutuhkan menyongsong suatu penampilan.

Sebuah celetukan sederhana, namun menyergap bel nalar penulis sedemikian rupa. Di tengah sesak-padatnya dunia pendidikan yang terhimpit tuntutan administratif ruang kelas, berbagai variasi pendekatan pengajaran kontemporer, dan pesatnya (akses terhadap) pertambahan karya-karya baru, pilihan menjadi guru seni musik sekolah dasar-menengah umum bukanlah pilihan yang diambil semudah memilih instrumen musik kegemaran. Lebih dari sekadar mampu bermusik secara individu, memilih menjadi guru seni musik sekolah adalah memilih untuk

memiliki komitmen terhadap musik sebagai produksi ilmu pengetahuan, …..berwawasan untuk menuntun anak didik mengenali elemen mendasar dari musiksebagai salah satu pintu menuju pendidikan karakter.” (Setiawan, E. 2017. Filosofi Pendidikan Musik: Kritik dan Renungan, 94).

Menghirup visi musikolog Erie Setiawan penulis memandang bahwa komitmen epistemologi musik, wawasan pedagogi musik, dan empati musikal perlu dipahami secara lebih praktis. Dalam lingkup kecil tidak hanya demi menjamin bertumbuhkembangnya suatu kelas musik yang memerdekakan peserta didiknya, namun dalam lingkup nasional pendalaman tiga nilai etos ini senafas dengan rancang bangun pengembangan kualitas pendidikan musik nasional (2015. Rencana Pengembangan Industri Musik Nasional 2015-2019).

Buster Moon, komitmen, pedagogi, empati musik di antara idealisme pasar

Buster Moon adalah nama dari tokoh rekaan dalam film animasi binatang antropomorfis Sing (2008. Iluminati Pictures). Potret fisik sekaligus jabatannya sebagai direktur Gedung Teater Moon sedikit banyak membawa para penonton (jika anda juga penikmat musik seni) membayangkan sosok James Levine (pengaba handal dan direktur The Met).

Singkat cerita film ini bercerita mengenai usaha Buster menyelamatkan Gedung Teaternya. Sebagai usaha terakhirnya ia memutuskan untuk mengakomodasi perkembangan pasar dan menyelenggarakan kontes bernyanyi warnasari, semacam Idol, The Voices. Namun karena kecurangan salah satu penampilnya seluruh pertunjukan berubah dan malah menjadi ajang pentas seni, tanpa embel-embel kompetisi atau hadiah. Potret perjuangan Buster Moon di sepanjang film, yang skenarionya ditulis dan diarahkan oleh sutradara video klip Garth Jennings, memberikan kilasan bagaimana komitmen dan empati musikal berperan penting di dalam tekanan perubahan pasar musik.

Komitmen Buster tergambar dalam bagaimana ia hampir secara heroik (dan dengan kekuatan super) menjalani jamak peran, mulai dari direktur artistik (musik, properti, panggung) dan operasional teater, pengaudisi penampil, melobi sponsor dan patron, hingga membimbing dan merancah keterampilan musik para penampil hijau tersebut. Wawasan pedagogi musikalnya tercermin dalam bagaimana ia secara jeli mendifferensiasi pendekatan dan perancahan kemampuan musikal tiap penampil. Garth Jennings memotret dengan subtil namun tajam pengaruh komentar sederhana seorang guru dapat mengubah nasib, semula hendak menjadi perampok namun Johnie Gorilla bertekad memperbaiki penampilan panggungnya setelah membaca komentar apresiatif Buster terhadap potensinya. Selain itu kesoktahuan juga berseimbang dengan keterbukaan ketika Buster menerima dan bahkan memotivasi Ash Landak menampilkan komposisi gubahannya sendiri.

Dan puncaknya, empati musikal Buster tunjukkan dengan tetap melanjutkan pentas seni demi menghormati perjuangan yang ia dan penampilnya telah tempuh. Penampilan gratis dan terbuka di atas reruntuhan gedung teaternya menjadi penanda bagaimana empati musikal berdiri kukuh atas pengagungan metode pasar yang mulai merambah virtuositas bermusik.

Pada awalnya adalah “sunyi”

Dalam buku terbarunya, Mendengar di Bali – Sebuah Buku Harian Bunyi, komposer muda dan dosen musik Gardika Gigih Pradipta mengundang pembaca untuk berkilas balik akan kunjungannya selama menjelajahi bebunyian di pulau Dewata, Bali. Uniknya alih-alih mempertajam penalaran mengenai “bunyi” sebagai elemen dasar musik, membaca buku Gigih justru mengundang kita untuk lebih dalam menghargai “kesunyian” dan “ruang”. Jika bunyi dilambangkan dengan perilaku aktif memainkan atau menghasilkan karya musik, maka melalui narasinya Gigih justru menawarkan perspektif sampingan terhadap kesunyian. Mengambil semangat Zen ala Takuan Soho, “sunyi” bagi Gigih berarti menyimak sekelilingnya. Entah itu lingkungan sekitar kosnya di Sidakarya, penyimakannya terhadap karya musikal Barenboim dan Takemitsu, atau antusiasmenya mempelajari musik Gong Bali yang baru untuknya. Alih-alih kebingungan, daya simak Gigih yang tulus dan jujur justru membuat tulisannya memancarkan kekaguman. Belajar sesuatu yang baru, dan terutama musik, hanya dimungkinkan dengan secercah kekaguman yang jujur bukan kepatuhan absolut. Kekaguman tersebut lahir dari kesunyian, dan di balik kepatuhan bersembunyi keriuhan.

Dalam kerangka pendidikan musik di dalam kelas, pengenalan “bunyi” dan “sunyi” memiliki implikasi filosofis yang sangat mendalam, karena bentuk dasar musik adalah keteraturan dua hal tersebut, melalui kerangka ritme, dinamika, dan harmoni (Setiawan, ibid.). Telah lebih dari dua puluh tahun ketika alm. Prof. Slamet Iman Santoso mengingatkan fungsi dasar lembaga pendidikan sebagai wahana penumbuhkembangan kemampuan komunikasi penanda (simbolis) manusia. Apabila beliau hanya menggarisbawahi dua ranah, bahasa dan matematika sebagai bentuk komunikasi dasar, maka kini musik melalui bunyi dan rangkaian bunyi juga merupakan penanda komunikasi (Burton & Taggart. 2011; Damono, Sapardi Djoko. 2012; Soemantri, Angela Astri, 2012).

Sebagaimana Gigih dalam bukunya hanyut dalam kesunyian untuk menyimak berbagai musik Bali, maka kelas musik seyogyanya menawarkan kesempatan bagi guru untuk ber”sunyi” mendengarkan musik muridnya, dan murid ber”sunyi” untuk saling mendengarkan musik temannya.

Pedagogi Ruang Musik Kelas

Berkaca dari penjabaran di atas dapat diambil beberapa poin penting terkait pendekatan musik di kelas, terutama ruang kelas Indonesia. Tidak semua sekolah Indonesia bergelimang fasilitas, sebagai contoh adalah kasus guru Nunuk Riza di SMU 1 Petungkriyono. Dalam salah satu sesi lokakarya penulis berkesempatan mendengar pengalaman beliau berpraktik langsung seni musik dengan alatnya langsung pohon, ranting, dan tanah. Berkaca dari apa yang dibagikan Setiawan dan Gigih dalam bukunya, apa yang melekat pada kita dan lingkungan kita (sebagaimana pak Nunuk Riza) sudah lebih dari cukup untuk menjadi modal membangun ruang musik kelas yang pedagogik.

Komitmen untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dan terunik dari setiap murid.

Pedagogi elemen dasar musik, dalam hal ini “bunyi” dan “sunyi” yang dibingkai dalam ritme, dinamika, dan harmoni.

Empati musikal yang terwujud dalam kelenturan dan kebesaran jiwa terhadap segala potensi musikal yang mungkin ditemui.

Namun untuk menggapai tri-etos ini seorang guru musik harus terlebih dahulu mampu memaknai dan menghidupi ruang kelas musiknya sebagai,

“seni waktu, seni momentum, …….ada bunyi dan ada diam. Semua saling bergantian pada saatnya masing-masing. ….Seperti pencopet….jikalau kita memahami “ketepatan saat,” maka kita akan lebih memahami musik.” (Pradipta, Gardika Gigih. 2017. Mendengar di Bali – Sebuah Buku Harian Bunyi)

Iklan
About JC Pramudia Natal (6 Articles)
Educator and Musician. I have been teaching and educating since 2001. My field mostly cover Humanities, majoring in Literature and Art and minoring in Music Performance. In my spare time outside of teaching i play piano, sing in a choir, read books, and sometimes write column or essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: