Kabar Terkini

Memetakan Jejak Melewati Tapal Batas: Resensi Filosofi Pendidikan Musik karya Erie Setiawan


Pada Desember ini musikolog Erie Setiawan menerbitkan sebuah karya kembali. Masih kental dengan gaya bahasanya yang luwes namun ketat dan disiplin dalam acuan ilmiah, karya terkininya Filosofi Pendidikan Musik: Kritik dan Renungan bermain di ranah yang sama sekali tidak main-main. Dengan secara langsung menyuratkan Pendidikan Musik Erie mengajak pembacanya merenungkan semangat-semangat luhur yang mendasari pelaksanaan pendidikan musik di dalam lembaga persekolahan. Semangat-semangat ini kemudian mengejawantah dalam pemahaman merinci terhadap praktik pengajaran dan belajar musik, yang bermuara kepada pembentukan karakter dari peserta kelas musik tersebut.

Penulis sebut tidak main-main, karena sejak dari awal hingga akhir buku Erie menawarkan sebuah narasi seimbang antara semangat dan praktik. Erie terjaga bahwa di satu sisi tidak semua praktisi pedagogi siap akan kajian pedagogi musik yang bernafaskan “filsafat (yang) lebih berkonotasi teoritis” (hlm. 5), namun tetap diperlukan sebuah swa-refleksi terhadap praktik pendidikan musik dalam konteks “dimensi pengalaman seseorang (pengajar) sekaligus pola pikir yang menggambarkan penyerapan atas makna-makna kehidupan” (hlm. 5). Sebagaimana religi merupakan semangat yang menjembatani konsep iman dan praktik agama, maka filosofi pendidikan menjembatani konsep filsafat pendidikan dan praktik pedagogi musik.

Deep Dive (Menyelam di Kedalaman) di Pusaran Kritik dan Renungan

Penataan bagian-bagian di dalam buku selain menunjukkan kematangan penalaran dan ketekunan perziarahan ide sistem bermusik Erie Setiawan di satu sisi, di sisi lain seolah-olah mendirikan plang peringatan “Tidak Untuk Para PengHobi Pengajaran Musik” (penulis akan kembali kepada makna  pengHobi musik di penghujung bagian ini). Baru bab I tapi pembaca langsung diajak menyelam ke pusaran musikalitas menyeluruh yang tidak hanya secara kritis mampu memilah antara musik-musik pendidikan dengan pendidikan musik, bahkan lebih jauh memiliki kacamata lintas budaya terhadap karya, nilai guna, dan nilai estetik tiap karya musik dari tiap budaya tertentu.

Secara luwes Erie mengilustrasikan kemampuan ini dengan kasus ketika sekelompok dokter, ilmuwan neurosains, dan ilmuwan musik berkumpul mencetuskan suatu penelitian penyembuhan kanker melalui pendekatan musik. Setelah demikian jauh penelitian yang mempertimbangkan berbagai genre termasuk hardcore, klasik barat, dan banyak lagi perkumpulan ini menemukan kuncinya ada di dalam pendekatan psiko-akustik dengan instrument suara yang menembangkan wirid (doa).

Dari segi pedagogi ilustrasi ini seharusnya menohok para pedagogi dan pengajar nasional, baik mata pelajaran lain atau musik, karena secara halus mengritik terkotak-kotaknya pendidikan dalam kerangka mata pelajaran di satu sisi, dan di lain pihak mengingatkan kita akan masih dangkalnya standar untuk dianggap berhasil dalam ranah musik.

Sebagai pembanding di akhir dekade 80’an dan awal ‘90an di Amerika sudah mulai dikembangkan apa yang dikenal sebagai STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematic) Based Education. Peserta didik belajar konsep ruang dan geometri matematika melalui praktik seni rupa, atau mendekati konsep fisika ruang dan bunyi melalui seni musik (Fiske, Edward B. 1999. Champions of Change The Impact of Arts In Learning). Walau pemerintah telah berusaha mengadopsi pendekatan ini dengan konsep Kurikulum Terpadu, sayangnya pelaksanaannya masih jauh panggang dari api, padahal telah banyak sekolah privat yang sedikit banyak mampu melaksanakan pendekatan ini. Lebih jelas mengenai contoh pelaksanaan kurikulum terpadu ini Erie menjelaskan dalam Bab VI Nilai-Nilai Edukatif di Dalam Musik. Berikut tabel di halaman 139-140 buku Filosofi Pendidikan Musik yang menjelaskan kepada kita bagaimana elemen musik dapat berkelindan dengan mata pelajaran lain.

No. Musik Bidang Lain
1 Karakteristik dari unsur-unsur musik, seperti: Nada, keras/lembutnya nada (dinamik), pitch, durasi, timbre (warna suara), dll. SCIENCE
Karakteristik dari gelombang udara, suara, getaran/vibrasi (frekuensi), amplitudo
2 Relasi antara nada dan ritme, seperti: cepat/lambat, pulse/metres MATEMATIKA
Angka dari nilai not: setengah, seperempat, interval
3 Asal dan kultur berbagai musik, seperti: Alam, ciri khas dan budaya STUDI ILMU SOSIAL
Budaya, cara hidup masyarakat dari berbagai kultur dan negara
4 Mengekspresikan ide melalui kombinasi timbre (warna suara), nada dan durasi VISUAL ART
Mengekspresikan ide melalui kombinasi garis, bentuk dan warna
5 Mengembangkan kemampuan untuk menggerakkan bagian tubuh tertentu secara eksak, seperti: keseimbangan (balance), merasakan ketukan (steady/unsteady beats), ritmik, teknik jari PHYSICAL EDUCATION (PE)
Mengembangkan gerak tubuh dasar (fundamental), seperti: Berjalan, berlari, melompat (hopping), skipping
6 Melatih kepekaan pendengaran (ear training) dan kemampuan membaca simbol, seperti: membedakan berbagai jenis dan tinggi rendah nada, timbre (warna suara, format ritmik dan visual dalam membaca simbol notasi balok) READING
Mengembangkan kemampuan untuk membedakan huruf vocal dan konsonan, berbagai suku kata dan kemampuan visual dalam membaca dan bernyanyi

 

Apabila tabel di atas menyajikan contoh memelajari elemen musik melalui mata pelajaran lain dan juga sebaliknya, maka kritik selanjutnya adalah terhadap standar musikalitas nasional sendiri yang terlalu dangkal. Dalam kerangka pandang Erie, pendidikan musik sejauh sampai saat ini masih terlalu

1. Berfokus kepada peningkatan kualitas teknik permainan
“menjadi terampil dalam hal main instrumen itu….orientasi utama. Munculnya kompetisi, ….tidak selalu berkaitan langsung dengan visi-misi dalam pendidikan musik. Setiap individu (seolah) hanya berjuang menjadi juara karena adu keterampilan yang tinggi. Musik diam-diam juga menciptakan pragmatisme atas identitas individu, kekuasaan orang tua, dan bukan kebudayaan dalam arti yang paling ideal.

Si anak yang akan mengikuti lomba harus dipaksa latihan seminimnya 8 jam sehari, tak boleh keluar rumah, tak boleh bermain-main segala macam benda yang bisa merusak penjarian, tak boleh ikut kegiatan lain selain yang berhubungan dengan musik.Anak-anak itu manut apa saja kata orang tua.” (hlm. 25-26)

2. Berfokus kepada peningkatan kemampuan membaca notasi musik
“lebih jauh Sheppard juga mengatakan, sekaligus mengkritisi, bahwa bacaan musik (partitur) bukanlah hal utama dalam pendidikan musik. Ia berkeyakinan bahwa mengajarkan musik (untuk anak-anak) dari suatu partitur musik adalah kurang produktif, bahkan dapat mengatasi perkembangan intelektual serta emosional anak (hlm.18)

Selain dari sisi pelajar musik, dari sisi (lembaga) pengajaran musik secara sistem pendidikan musik nasional masih terlalu

3. Berorientasi kepada musik klasik Barat
“heboh mengacu ke sana (konsep-konsep pendidikan musik yang oleh ahli berlatar belakang kultur Barat) demi legitimasi atas keterampilan….., belum afdol rasanya kalau belum menyelesaikan grade per grade yang distandarkan berbagai organisasi atau grade itu (hlm. 15)

4. Berorientasi pasar dan kerap mengacuhkan hubungan lembaga-guru-murid dan musik
”Sementara itu, kursusan musik makin menjamur, baik yang kecil-kecil sampai yang magrong-magrong (besar dan mewah). (hlm. 12)

“Yang mengherankan, meskipun saya tidak melakukan kalkulasi kuantitatif secara detail, umumnya para instruktur (musik) tersebut merasa tidak nyaman menghadapi segala tekanan selama bekerja di suatu kursusan, dan rata-rata hanya menganggap pekerjaan mereka sebagai “jembatan”, “selingan”, belum sampai kepada urusan karir, apalagi martabat. Gampangnya, mengajar bukan suatu panggilan, melainkan keterpaksaan karena harus bertahan hidup. Alhasil, hidup para instruktur itu hanya menghabiskan waktu dan menerima gaji yang tidak seberapa di tengah padatnya lalu lintas perkotaan. Kalau pun ada instruktur yang sangat sibuk, …..tidak sempat lagi mendengarkan musik, mengerti musik yang bagus.” (hlm. 26-27)

Masih sedikit orang (kepala sekolah dan patron musik) yang berkesungguhan merancang, mempraktikkan, dan mengelola formula, model, kurikulum, silabus, yang merepresentasikan kebutuhan manusia dalam rangka mempertahankan dirinya secara kreatif (tanggap situasi) (hlm. 84-85).

Mengurai Renungan Mengayun Langkah

Di tengah siklon kritik yang demikian mendalam dan berkelindan tidak salah bila kemudian Erie mengingatkan bahwa sebelum mencari jalan keluar, siapa saja yang terpanggil  terhadap penumbuhkembangan pendidikan musik nasional, seyogyanya melepaskan diri dari kemapanan di jenjang penguasaan “keterampilan bermain musik sebagai instrumentalis, dan mulai memupuk “komitmen terhadap “musik sebagai produksi ilmu pengetahuan” itu sendiri, mengingat tugas seorang guru adalah tidak semata-mata transfer keterampilan (guru bukan instruktur), melainkan makhluk yang berwawasan untuk menuntun anak didik mengenali elemen mendasar dari musik sebagai salah satu pintu menuju pendidikan karakter. Maka guru memiliki beban ganda, baik sebagai instruktur maupun sebagai pamong, atau penuntun. (hlm.93-94). Dengan memiliki etos dasar ini barulah talaan terhadap pendidikan musik tidak akan sesempit dunia pertunjukan saja, dan dapat melingkupi ranah-ranah lain yang belum terpikirkan.

Salah satu indikator yang digunakan Erie dalam mengevaluasi apakah sebuah kurikulum musik telah mampu mengakomodasi kemenyeluruhan musik dan pelajarnya itu sendiri adalah dengan menggunakan CLASP yang tertuang dalam A Basic for Music Education karya Keith Swanwick. CLASP merupakan kepanjangan dari Composition, Literature Studies, Audition, Skill Acquisition, Performance.

Berkaca kepada situasi kontekstual Nusantara sayangnya, baik di sekolah umum atau lembaga pendidikan musik, baru kurikulum dan pengampu musik berbasis Barat yang memiliki akses terhadap pengajaran lima elemen di atas. Terutama terkait karakteristik pewarisan budaya Nusantara yang umumnya tak benda, sehingga sedikit literatur-literatur pendidikan musik tradisi (hlm. 88), yang tentu saja mengakibatkan perancangan bangun pendidikan musik berbasis Nusantara perlu “didukung modal yang memadai. Segala macam investasi puluhan tahun dibalut kecermatan membaca peluang” (hlm. 77). Karena bahkan “di negara maju tidak ada pendidikan musik yang murah” (hlm 75).

Menilik situasi tersebut tidak heran bahwa di saat-saat seperti ini yang diandalkan para peserta didik dan pelajar musik, adalah guru-guru. Mengutip Najeela Shihab yang mengamini fatwa John Hattie, murid-murid mampu mencapai hasil terbaik karena guru-guru yang merdeka belajar. Guru-guru merdeka belajar ini mampu membangun relasi dengan murid, dan lebih jauh membangun relasi murid dengan karya musik yang mereka pelajari. Misal dalam praktik di kelas, elemen penguasaan keterampilan (skill acquisition) dapat berkelindan dengan elemen penggubahan (composition) musik.  Sedini jenjang PAUD-TK dengan pemahaman mendalam terhadap pendekatan Dalcroze, Orff, dan Kodaly, guru dapat memerdekakan muridnya menggubah komposisi musikal yang tidak terbatas lagu melodis, namun bahkan gerakan rancak dan musik perkusif nan ramai. Sejak kelas 2 SD elemen menyimak (audition) dapat ditautkan dengan studi literatur (literature study) melalui kegiatan nonton bareng yang didahului latihan pembacaan partitur dan membaca referensi dan diakhiri dengan aktifitas refleksi peta konsep (mind map). Dan di ujung ketika memang waktunya para murid harus menampilkan (perform-ance) sebuah karya, bukan hanya pengetahuan mereka akan notasi balok dari karya tersebut yang mereka mainkan, namun, membungkus ulang pianis Ananda Sukarlan, mereka menjalin relasi dengan penonton karena mereka hendak menyampaikan sebuah pesan dan perasaan mereka, yang mana pesan tersebut ibarat sebuah cerita, telah dibangun jauh sebelumnya.

Menepikan Diri Mengayunkan Pandang

Walau juga sempat mengingatkan kita mengenai faktor-faktor penting di dalam penumbuhkembangan pendidikan musik nasional: seperti kehadiran karya Ilir-Ilir: Ilustrasi Tembang Dolanan karya Rm. Sindhunata yang layak dijadikan salah satu babon lagu dolanan Jawa (hlm. 12-13), kekinian teknologi yang selalu harus diselarasi oleh (lembaga) pendidik(an) musik (hlm. 113 – 116), kemungkinan sejarah (dan) teori musik dapat diikutsertakan dalam materi kuliah liberal art, atau dalam kerangka praktis adalah mengembangkan elemen musikologi dari praktik mata kuliah dasar apresiasi seni yang telah diadakan di beberapa Perguruan Tinggi Nasional (Bab IV), hingga intisari 10 kendala pendidikan musik nasional yang secara tersirat hadir dalam kualitas berbeda di dalam tiap kota-kota di Indonesia (hlm. 156-160); menarik untuk disimak selanjutnya adalah memetakan filosofi praktik pendidikan musik Nusantara dalam konteks pengorangtuaan usia dini (early childhood parenting).

Secara tradisi memang di Nusantara dikenal tradisi nyantrik, atau dalam konteks sosio-ekonomis (sebagaimana dalam karya Umar Kayam, Sang Priyayi) disebut ngéngèr. Dengan krusialnya periode emas pertumbuhan kognisi dan pemangkasan sinapsis di otak ((Burton & Taggart [Ed]. 2011. Learning From Young Children. Hlm. 9), apakah perlu filosofi pendidikan musik juga menjangkau sejauh bagaimana orang tua mengondisikan lingkungan rumah yang musikal untuk anak-anaknya (Kodaly, Zoltan; Lehmann, Sloboda, Woody. 2007; Soemantri, Angela Astri, 2012)? Atau cukuplah dengan mengembangkan kesangkilan tradisi nyantrik dan juga pendidikan musik (di) sekolah?

Mungkin, dengan melangkahkan kaki hingga menjejak nyata setiap permenungan di atas, semoga akan tiba masanya kita tidak akan seterkejut Erie saat mendengar ada Profesor Teori Musik dengan pengkhususan video game

“Whaaaattttt?!” (hlm.98)

Iklan
About JC Pramudia Natal (6 Articles)
Educator and Musician. I have been teaching and educating since 2001. My field mostly cover Humanities, majoring in Literature and Art and minoring in Music Performance. In my spare time outside of teaching i play piano, sing in a choir, read books, and sometimes write column or essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: