Kabar Terkini

Blockchain dan Penerapan HAKI Musik


Hak kekayaan intelektual (HAKI) dari musik memang masih dirundung beragam tantangan karena kompleksitas dari industri musik itu sendiri. Namun, blockchain sebagai teknologi yang mendasari bitcoin bisa jadi adalah pemecahan terbaik dari permasalahan yang ada dalam pengelolaan HAKI musik.

Pengelolaan hal kekayaan intelektual musik memang menjadi sebuah tantangan tersendiri. Pengelolaan HAKI bertumpu pada sebuah sistem yang tidak pakem dan terdistribusi, dirundung beragam masalah pembajakan dan persoalan distribusi musik maupun distribusi royalti yang relatif tidak transparan. Dengan disrupsi teknologi digital saat ini dalam distribusi musik, persoalan pengelolaan HAKI menjadi semakin menantang,

Salah satu tantangannya adalah tidak ada badan internasional yang mengawasi penggunaan musik dan distribusi royalti. Badan manajemen kolektif umumnya bergerak di level nasional dan mengandalkan kerjasama antar badan untuk lingkup internasional. Indonesia bahkan memiliki empat badan Lembaga Manajemen Kolektif yang terpisah satu dari yang lain, dan semakin menambah kompleksitas kerjasama dalam dan luar negeri. Hal ini tentu membatasi lingkup pengawasan, reliabilitas data dan ruang geografis yanh dapat dimonitor dan digarap. Selain itu, dengan database lagu yang terpisah dan terdistribusi di masing-masing badan tanpa ada jembatan komunikasi antar data sehingga pencocokan dan proses pengelolaan lainnya pun menjadi sangat kompleks.

Banyak perusahaan teknologi seperti Youtube, Spotify dan iTunes pun masuk ke distribusi tanpa proses akuntabilitas yang jelas dalam upaya pembagian royalti. Beberapa pihak pun mengeluhkan rendahnya penerimaan royalti dari bidang distribusi digital ini dan mengangkat persoalan transparansi yang seringkali kurang memuaskan bagi pelaku dan pencipta.

Blockchain sendiri adalah sebuah teknologi yang mendasari mata uang kriptografis (cryptocurrency), dimana bitcoin menjadi salah satu penerapannya dan mengalami ledakan nilai yang luar biasa beberapa tahun terakhir. Blockchain sebagai sebuah teknologi mengunci data transaksi dan kepemilikan secara internal namun transparan, tanpa ada badan pengawasan yang berada di atasnya.

Teknologi ini memungkinkan siapapun untuk melihat dan memantau keaslian, alur distribusi dan kepemilikan sebuah benda terblockchain yang berada secara virtual dimanapun ia berada untuk menjamin keaslian dan keabsahannya. Dengan adanya fitur data yang menempel pada benda itu sendiri, tidak diperlukan adanya badan sentral yang mengawasi sehingga sedikit banyak dapat mengatasi persoalan lembaga kolektif yang terdistribusi di berbagai negara. Meski demikian, blockchain juga memungkinkan anonimitas pengguna, sehingga dapat tetap menjaga kerahasiaan penggunanya.

Teknologi Blockchain pun dapat mensertifikasi benda tersebut untuk jangka waktu tertentu dan dapat menentukan kaluarsanya sebuah produk. Apabila sebuah file musik hanya disertifikasi untuk sebuah masa tertentu, maka keabsahan file tersebut dapat diset sedemikian rupa sehingga ia akan terkunci apabila sudah melewati masa kadaluarsanya.

Dengan distribusi musik terblockchain, pencipta dan seniman dapat melihat arus lalu lintas karya ciptanya sekaligus memantau arus informasi royalti yang menjadi haknya. Informasi pemutaran dan penggunaan pun dapat terekam dengan lebih akurat sehingga memastikan akuntabilitas dari properti musiknya. Selain itu karena transparansi dari Blockchain, seorang musisi dapat melihat alur distribusi atas karyanya dengan melihat alur distribusi tersebut. Proses penyalinan pun dapat diminimalisasi, namun transfer kepemilikan dimungkinkan apabila ia berasal dari sumber yang sah. Alhasil, keasliannya dapat terjaga dan transfer kepemilikan layaknya uang dan materi fisik dimungkinkan. Seorang seniman maupun label dapat menelusuri berapa unit file musik yang sungguh beredar di pasar dan berapa jauh digunakan oleh pengguna dan pendengar hingga detailnya berupa berapa jumlah kopi dan berapa kali dimainkan. Batas politis-geografis pun dapat dilampaui karena sifat Blockchain yang agnostik pada sistem negara.

Meski penggunaannya masih baru, namun potensinya dapat memaksimalkan pemantauan atas distribusi hak kekayaan intelektual musik, terutama dalam ranah musik industri rekaman. Seberapa jauh musik terpengaruh oleh teknologi ini memang belum dapat dipastikan karena belum banyak terdengar pemain besar dan label besar memberikan atensinya secara jelas untuk mengembangkan teknologi ini. Sejauh ini hanya korporasi besar di bidang keuangan dan negara saja yang mulai memandang teknologi Blockchain secara serius dan membentuk satuan kerja untuk menyelidiki potensi teknologi kriptografi ini.

Industri musik pun perlu membentuk sebuah unit kerja yang menyelidiki potensi dan membangun implementasi teknologi ini. Blockchain sendiri lahir dari bawah dan merupakan sebuah dokumen terbuka lewat media bitcoin. Namun, dalam pengembangannya kini, Blockchain menggantungkan diri pas korporasi besar dan hegemoni nasional dan transnasional untuk pengembangannya lebih lanjut. Dalam tataran industri musik, mereka yang memiliki kekuatan kapital seperti makro label yang kemungkinan dapat membentuk konsorsium untuk menggarap potensi ini. Akhirnya pun pengembangannya tidak terlepas dari campur tangan pihak-pihak yang memiliki kekuatan untuk mengaplikasikannya dalam industri secara luas dan dapat memonetisasi investasi teknologi yang dijalankannya.

Dan untuk itu, kita dapat menunggu hingga inisiatif dari label jelas berbuah atau meriset dan mengembangkannya sendiri di akar rumput.

Iklan
About mikebm (1318 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: