Kabar Terkini

Marketing vs. Pengembangan Audiens – yang mana?

http://tubularinsights.com/wp-content/uploads/2017/08/Online-Video-Strategies-for-Audience-Development-1000x600.jpg

Marketing atau pemasaran bisa jadi adalah sebuah jargon yang paling populer dalam dunia bisnis, namun dalam dunia seni, marketing tidaklah lagi cukup. Pengembangan audiens atau audience development lah yang kini menjadi tolak ukur kemajuan organisasi Anda.

Perspektif marketing seperti pada umumnya berlaku dalam bisnis lebih terkonsentrasi pada bagaimana produk mencapai pasar tertentu agar mendapatkan hasil terbaik. Berbagai upaya dilakukan untuk menganalisis bagaimana agar produk dapat terjual dan sampai kepada masyarakat. Sebagaimana dilakukan oleh bisnis konvensional, bisnis melihat marketing bersentral pada sebuah upaya yang berfokus pada produk, sedangkan pasar sebagai sebuah mekanisme black box yang menjadi target operasi.

Salah satu upaya untuk mendekati mekanisme pasar tersebut adalah dengan melaksanakan strategi marketing mix, di mana sejumlah faktor ditentukan untuk kemudian dikondisikan agar target pasar mampu merespons sesuai yang diinginkan. Pasar pun dilihat sebagai sebuah obyek yang diutak-atik dan dikepung oleh beragam instrumen dan faktor sehingga setiap bisnis bisa mendapatkan sebuah mekanisme paling efektif juga efisien untuk menjual produk mereka. Alhasil muncullah istilah market-driven dan product-driven dalam upaya marketing. Hal ini meskipun benar, namun tidak tentu representatif untuk paradigma sebuah organisasi seni dimana transaksi pembelian tidaklah tentu sebuah ujung proses marketing ini.

Marketing mix 7P. Diambil dari marketingmix.co.uk

Konsep pengembangan audiens dalam dunia seni sangat berbeda. Pengembangan audiens lebih terfokus pada audiens dan pengayaan mereka sebagai seorang manusia dan tidak berujung pada sebuah transaksi pembelian semata. Ya, transaksi pembelian tentunya menjadi salah satu capaian, tetapi ia tidak pernah menjadi sebuah tujuan akhir dalam melaksanakan kegiatan ini.

The term Audience Development describes activity which is undertaken specifically to meet the needs of existing and potential audiences and to help arts [and cultural] organisations to develop on-going relationships with audiences. It can include aspects of marketing, commissioning, programming, education, customer care and distribution. – Arts Council England-

Pengembangan audiens berfokus pada titik temu visi sebuah organisasi seni dan pengayaan audiens, bukan hanya pada sekedar sebuah transaksi jual beli dan mencoba untuk memenangkan mindshare dari pasar yang kompetitif. Pengembangan audiens juga sesuai dengan paradigma nirlaba yang kerap menjadi bentuk dari sebuah organisasi seni.

Pengembangan audiens juga mengintegrasikan beragam aspek yang kerap tidak masuk dalam kategori marketing konvensional, yakni distribusi, upaya menyusun program dan edukasi. Upaya edukasi dan menyusun program di satu sisi memang menargetkan transaksi dan upaya menggapai pasar, namun kedua upaya ini melihat lebih jauh: mengembangkan audiens sebagai penikmat dan penonton yang semakin cerdas dan termampukan lewat program yang disampaikan juga lewat upaya edukasi yang dilaksanakan. Aspek transaksi jual-beli hanyalah sebuah efek samping dari upaya-upaya ini secara keseluruhan.

Aspek keterlibatan audiens (audience engagement) dalam organisasi juga menjadi salah satu aspek yang integral dalam audience development. Ketika bisnis konvensional menepikan pelanggan sebagai obyek dan tidak dengan mudah menjadi bagian dari perusahaan, audience development juga mengarahkan agar audiens pun lewat program dan edukasi ikut ambil bagian dalam upaya aktif organisasi. Aspek emosional dan kedekatan dengan organisasi seni menjadi salah faktor yang sungguh diidentifikasikan. Aktivasi audiens bukan hanya sekedar untuk membeli karcis ataupun mendaftar menjadi pelanggan, namun audiens pun diarahkan untuk ikut aktif terlibat dalam organisasi, entah sebagai sukarelawan, hingga menjadi anggota pembina dan donatur yang merupakan bukti dari kesamaan visi audiens dengan organisasi tersebut.

Audiens bukanlah sekedar membeli, menjadi fans dan berujung pada uang, tetapi juga bagaimana lewat program yang disampaikan setiap penonton, terlibat dan diperkaya lewat program yang diikuti. Audiens bukan hanya dilihat dari kekerapannya membeli ataupun share mereka terhadap revenue organisasi tetapi juga bagaimana lewat beragam program yang ada, audiens menjadi semakin apresiatif terhadap seni yang ditawarkan, semakin reseptif dan pada akhirnya lewat seni menjadi seorang warga yang patut dicontoh. Dalam pengembangan audiens, seni dilihat sebagai sebuah media memperkaya batin dan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hiburan dan kebutuhan sehari-hari layaknya sebuah produk manufaktur masal seperti mie goreng instan maupun shampo.

Karenanya dalam proses pengembangan audiens, proses kurasi, pemrograman, edukasi dan pemasaran semuanya bergabung menjadi satu untuk mencapai sebuah tujuan yang bukan hanya bertumpu pada terbelinya produk dan acara, tetapi juga bagaimana setiap aktivitas ini menjadi bagian dari hidup masyarakat dan setiap penontonnya, membentuk mereka sebagai pribadi yang terlibat dan tercerahkan. Audience development bukanlah market ataupun product-driven; ia adalah vision-driven, dimana market, produk dan strategi dibentuk karena visi untuk kemasyarakatan dari cita-cita besar sebuah organisasi seni. Menarik bukan?

Sayangnya konsep ini belum begitu terdengar di Indonesia. Sudahkah organisasi kita siap?

 

Iklan
About mikebm (1318 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: