Kabar Terkini

Guncangan Bandung Philharmonic Melalui ‘Krakatoa’


WhatsApp Image 2018-02-17 at 13.10.54

Gempa sempat melanda pulau Jawa pada akhir Januari silam. Guncangan yang terjadi tidak menurunkan semangat Bandung Philharmonic untuk menampilkan sebuah konser yang bertajuk ‘Krakatoa’. Konser yang menandakan dibukanya musim ketiga bagi Bandung Philharmonic di tahun 2018 ini diadakan di Hotel Hilton Bandung pada tanggal 27 Januari lalu. Berbeda dari biasanya yang diadakan di gedung konser dengan bentuk auditorium, kali ini konser diadakan di sebuah ballroom yang dapat menampung lebih banyak penonton. Antusiasme yang tinggi dari para penonton baik warga Bandung maupun luar Bandung membuat ballroom tersebut penuh dengan para penikmat musik.

Sebelum konser dimulai, ansambel tiup logam bermain di bagian paling belakang dari ballroom sembari menunggu para penonton masuk. Ansambel yang merupakan para pemain tiup logam Bandung Philharmonic bermain dengan mantap dan suara terdengar bahkan bagi yang duduk di depan. Setelah itu mereka kembali ke panggung untuk bergabung dengan rekan-rekan yang lain untuk tuning. Setelah tuning, konduktor dari Bandung Philharmonic Orchestra, Robert Nordling, masuk dan membuka konser dengan memainkan Indonesia Raya.

Karya pertama yang membuka konser adalah Peer Gynt Suite No.1, Op. 46 oleh Edvard Grieg. Pada gerakan pertama yaitu Morning Mood, melodi flute masuk diiringi rekan-rekan tiup kayu lainnya yang menandakan mulai terbitnya matahari pagi. Disambut dengan oboe, sampai akhirnya deretan gesek menyambut melodi yang dimainkan. Secara umum, pada gerakan ini tampak seluruh pemain masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan pantulan suara di Ballroom karena sempat adanya kurang presisi pada nada-nada yang dimainkan. Tetapi melalui usaha untuk saling mendengar, suara terdengar jauh lebih membaik dan terdengar lebih prima ketika memasuki gerakan kedua yaitu The Death of Ase. Gerakan-gerakan selanjutnya, Anitra’s Dance dan In the Hall of Mountain King, dimainkan dengan sangat baik. Tampak Robert Nordling memperhatikan setiap detil dari karya yang dimainkan yang kemudian dieksekusi dengan baik oleh para pemain.

Setelah mendengar In the Hall of Mountain King yang mencekam, karya berikutnya yang dimainkan tidak kalah mencekam yaitu Night of the Bald Mountain atau Malam di Gunung Bald karya Modest Mussorgsky yang diaransemen oleh Nikolai Rimsky-Korsakov. Karya ini menunjukkan kepiawaian bermain dari semua seksi. Para pemain seksi gesek kompak tampak memainkan nada-nada tanpa kesulitan. Seksi tiup kayu dan tiup logam mampu memainkan melodi dengan sangat kuat, khususnya tiup logam membuat karya ini terdengar gahar. Pada deretan perkusi memancarkan energi yang kuat juga dan mendukung permainan dari seksi-seksi lain. Pada akhir karya ketika masuk dinamika mulai turun dengan nuansa lebih tenang, permainan harpa masuk dengan indah dan menjadi transisi yang sangat baik untuk membantu clarinet dan flute untuk memainkan solo dengan cantik.

Karya berikutnya merupakan ciptaan komponis Indonesia bernama Tan De Seng. Beliau adalah seorang keturunan Tionghoa yang besar di Bandung dan menjadi advokat budaya Sunda yang luar biasa. Karya yang ditampilkan adalah Aki Manggul Awi atau Kakek Memikul Bambu. Karya ini diaransemen ulang oleh Fauzie Wiriadisastra untuk ansambel tiup. Mengisahkan tentang seorang kakek yang bekerja untuk menghidupi keluarganya, karya ini terdengar sangat etnikal yang dimainkan dengan alat-alat musik klasik barat. Kental sekali suara khas-khas Sunda dan tonalitas khas Jawa sepanjang karya ini dimainkan, mengingatkan akan angin sepoi-sepoi di sebuah saung. Berakhirnya karya ini menandakan akhir dari sesi pertama.

Setelah istirahat, orkestra memainkan karya world premiere yang menjadi judul dari konser pada hari itu, Krakatoa – Konserto untuk Viola. Karya ini dibuat oleh Stacy Garrop yang merupakan komponis asal Amerika yang pernah menjadi pengajar komposisi di Chicago College of Perforing Arts di Roosevelt University selama 16 tahun. Solois viola pada karya ini adalah Michael Hall yang juga merupakan direktur artistik serta direktur program pendidikan dari Bandung Philharmonic Orchestra. Karya yang dimainkan ini benar-benar berusaha menggambarkan layaknya gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883. Teknik-teknik khas karya kontemporer banyak tertuang yang menimbulkan suara-suara yang unik sepanjang karya ini. Solo viola dari Michael Hall dan kolaborasinya dengan konduktor perlu diacungi jempol karena mampu menyampaikan pesan kepada penonton akan gunung Krakatau yang sedang bergemuruh, kemudian meletus, dan kembali tenang.

Sebagai penutup dari konser, karya Bedrich Smetana dimainkan yaitu Sungai Moldau. Karya ini mengisahkan akan kecintaan Smetana terhadap negara tempat ia tinggal, Cekoslowakia, dan bagaimana ia melihat banyak kejadian-kejadian yang terjadi ketika menyusuri sungai Moldau. Karya dibuka dengan duet flute yang diiringi harpa dan pizzicato seksi gesek ini menjadi khas dari karya ini. Duet flute bersahut-sahutan yang memang dikenal sulit ini dimainkan dengan penuh usaha dalam menjaga kestabilan dan keseimbangan suara. Ketika masuk melodi yang dimainkan seksi gesek, bayangan megah muncul layaknya melihat istana dari kejauhan. Perpaduan suara antar seksi dan dinamika pada akhirnya dapat diraih, sehingga perjalanan menyusuri sungai menjadi terasa menyenangkan.

Riuh tepuk tangan terdengar setelah karya Smetana dimainkan. Ternyata Robert Nordling memberikan sebuah kejutan dengan memberikan sebuah encore. Tetapi karya encore tidak diaba olehnya, melainkan oleh conductor fellowship dari Bandung Philharmonic Orchestra yaitu Wishnu Dewanta. Karya encore dimulai dengan solo harpa yang terdengar virtuoso dan membuat para pendengar bertanya-tanya karya apa yang dimainkan. Setelah itu masuk solo flute yang memainkan melodi dari Bengawan Solo dan membuat para penonton berdecak kagum. Karya yang telah diaransemen ulang seperti sebuah fantasia ini terdengar simpel dengan melodi yang berganti-ganti antar seksi dan iringan yang menarik. Wishnu Dewanta tampak ringan mengaba yang membuat para pemain orkestra tampak menikmati setiap nada yang dimainkan. Berakhirnya karya ini menandai akhir dari konser.

Bandung Philharmonic Orchestra pada musim yang ketiga ini menunjukkan kekompakkannya dalam bermain. Suara yang dihasilkan oleh orkestra terdengar lebih bulat sesuai dengan kerja keras latihan yang dilakukan. Pengaba dan orkestra sepertinya mulai menemukan ‘chemistry’ yang membuahkan permainan orkestra yang indah dan berhasil ‘mengguncang’ penikmat musik Bandung. Sukses terus Bandung Philharmonic Orchestra dan ditunggu konser-konser berikutnya di musim yang ketiga ini.

WhatsApp Image 2018-02-17 at 13.10.55

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: