Kabar Terkini

Berbagi Suka Cita Seorang Klinisi

Mahawaditra menjadi peserta klinik 2015 lalu.

‘Klinisi’ mungkin bukanlah istilah yang formal dalam bahasa Indonesia. Meski istilah clinician mungkin cukup populer di kalangan musik dan non-musik di luar sana. Namun, ‘klinisi’ bukanlah suatu hal yang jauh dalam dunia seni, terutama seni musik di manapun.

Mungkin berbeda dari dunia lainnya di mana proses berseni seringkali menjadi proses yang personal, dalam dunia musik pertunjukan, klinik dan bengkel menjadi kegiatan yang lekat dengan identitas seni musik itu sendiri, di mana proses belajar adalah sebuah proses sosial yang dilakukan terus-menerus. Sebagaimana Haruki Murakami mencatat dalam bukunya Absolutely on Music, natur pembelajaran musik sebagaimana ia simak dalam kehidupan konduktor Maestro Seiji Ozawa sangat kental dengan interaksi sosial di mana pengalaman dan cita rasa dibagikan, lewat kata-kata, perbuatan dan inspirasi musikal.

‘Klinik’ adalah hal yang sangat inheren dalam dunia seni musik, di mana sebuah sesi dibuka untuk pemusik muda menimba ilmu dan mencari opini dari seorang musisi lain yang kerap lebih senior atau setidaknya memiliki pengalaman lebih dari musisi yang bekerja langsung memainkan musiknya. Klinik ini seringkali juga dianggap sebagai sebuah masterclass, di mana pemberi materi/klinisi memberikan kemungkinan-kemungkinan eksplorasi musikal yang dapat digarap dan sedikit banyak menarik musisi dari zona nyamannya. Dan dalam aktivitas tersebut, musisi diharapkan mampu menemukan dimensi lain dari musik yang dimainkannya, ataupun memacu dirinya lebih jauh sehingga musik yang dihasilkan pun semakin bermakna.

Bagi seorang musisi, musik yang dimainkan seringkali telah menjadi bagian dirinya, karena ialah yang terlibat langsung bermain dan terjun dalam musik yang dimainkannya. Sehingga tidaklah mudah bagi seseorang untuk mengambil jarak dan mengevaluasi permainannya sendiri dan memperbaiki apa yang kurang. Sepasang telinga lain yang berada di luar bisa jadi memberikan semacam perspektif lain yang lebih obyektif dalam menilai musik yang dimainkan dan memberikan masukan yang berarti. Di sinilah klinisi mengambil peranan yang cukup krusial untuk menjadi penyambung telinga dan evaluasi bagi para musisi yang sedang bermain itu sendiri.

Di dalam tapi di luar

‘Klinisi’ sejatinya tidak pernah menjadi bagian dari pemusik yang tampil di atas panggung. Tetapi, mereka juga bukanlah pihak eksternal sama sekali. Keterlibatannya mengkonfirmasi perannya dalam sebuah pertunjukan yang dimainkan oleh musisi-musisi, karena lewat masukan-masukannyalah hadir permainan musik sebagaimana tersaji di atas panggung. Meski demikian, seorang klinisi tidak pernah menjadi bagian langsung dari penggarapan. Ia adalah seorang influencer yang berbicara dan membantu memberikan masukan, namun keputusan artistik bukanlah di tangannya.

Tapi inilah keunikan peran seorang klinisi. Ia bisa menjadi seorang katalisator yang mempercepat perkembangan sebuah kelompok musik. Dalam pengalaman penulis, seorang klinisi bisa mengambil peran ganda, sebagai pengkritik pedas, namun juga seorang motivator ulung, dan kesemuanya untuk semakin membuat peserta kliniknya semakin berdaya. Ia adalah orang luar yang mampu memberi kritik pedas, tapi ia juga adalah orang dalam yang mampu memberikan petunjuk praktis bagi perkembangan permainan musik kelompok.

Pendapat seorang klinisi sebagai pihak eksternal bukan hanya memberikan sebuah solusi praktis, melainkan juga dituntut untuk mencelikkan mata musisi yang menjadi audiensnya. Pola pikirnya sebagai seorang luar diharapkan mampu memantik pemikiran out-of-the-box dari musisinya dalam memahami musik yang dimainkannya, memberikan perspektif baru yang membangun bagi kelompok yang dibinanya. Klinisi adalah angin segar juga seorang hakim yang mampu memberikan perspektif baru terkini, tetapi juga seorang yang mampu memberikan peringatan akan bahaya dan keburukan yang terjadi. Klinisi suara batin yang terdengar dan berbisik di telinga penyaji akan komitmen pada keindahan musik.

Sukacita ketika berdampak

Menjadi klinisi musik tidak ubahnya menjadi seorang konsultan bisnis. Kata-katanya bisa jadi berasal dari pengalaman berpuluh tahun, kebijakannya bisa jadi adalah hasil jerih payah berwaktu-waktu, namun ia tidak ubahnya angin lalu, yang datang lalu kemudian pergi. Ucapannya bisa jadi tinggal, namun juga bisa lenyap tertelan waktu. Sejak semula ia ada bukanlah untuk dipatuhi.

Klinisi tidak mengikuti proses latihan secara utuh. Ia hanya datang di satu ketika membagikan keberadaannya sementara saja. Ia penanda dari waktu dan pengalaman yang tidak berhak mengambil kredit dari hasil yang diraih musisinya. Ia hanya di sana untuk sepersekian dari proses yang ada, membagikan pendapat dan pengalaman. Ia pengajar, tapi bukan sepenuhnya pendidik yang mengikuti perkembangan anak didiknya dari waktu ke waktu.

Sukacita seorang klinisi bukan karena ia dipatuhi, melainkan karena ia mampu meninggalkan dampak yang nyata di hati dan pikiran musisi yang ia latih. Perubahan cara pandang dan bagaimana kualitas terdongkrak menjadi dampak yang sangat nyata yang hadir lewat interaksi antara klinisi dengan musisinya. Kadang kala dampak klinisi bisa lebih bersifat reflektif, ketika peserta klinik mampu memahami lebih jauh musik yang digarapnya maupun tujuan bermusik yang lebih mendalam. Klinisi bersuka cita atas momen ‘Eureka’ di mana peserta klinik mampu menyingkap potensinya yang tersembunyi, menyadari sebuah kekayaan keindahan musik yang berbeda dan menggapai keparipurnaan sebuah karya seni.

Klinisi bisa jadi adalah peran yang unik, dan memang butuh orang yang spesial pula untuk menjadi klinisi. Namun ia bukanlah keistimewaan itu. Keistimewaan adalah bebunyian indah yang muncul dari kehadirannya yang meski sejenak mampu menciptakan makna bagi sekitarnya.

Sukacitanya sederhana, klinisi pun semakin berdampak karena kerendahan hatinya.

Iklan
About mikebm (1335 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: