Kabar Terkini

Mendengar Musik di Mobil Tilang karena Berbahaya?


Netizen dibuat ramai karena ada satu informasi yang menarik yang muncul soal dilarangnya mendengarkan musik di mobil yang akan berbuah tilang. Kabar punya kabar hal ini dilarang karena musik dianggap mampu mengganggu konsentrasi. Berikut analisis Otomotif Kompas:

Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 106 Ayat 1 disebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.
Selain main ponsel, atau dalam keadaan mabuk, kegiatan lain yang bisa menurunkan konsentrasi ketika berkendara, menurut Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto, adalah merokok dan mendengarkan musik.

Menurut berbagai pihak, musik memang dapat menjadi sebuah gangguan atas konsentrasi apabila disetel terlalu keras ataupun pengemudi beraksi berlebihan terhadap musik seperti mengetuk, ngetuk, berjoget di dalam mobil. Akan tetapi tidak sedikit pula yang menganggap bahwa pasal ini adalah pasal karet di mana membuka interpretasi yang beragam dan juga membuka peluang persekusi yang negatif dari pihak kepolisian lalu lintas yang hingga kini masih memiliki reputasi buruk mengenai korupsi dan akuntabilitas.

Pengaruh musik dan radio terhadap konsentrasi memang masih menjadi sebuah misteri. Dr. Ulrich Palmer dari University College London telah melakukan penelitian bagaimana suara dan musik dapat menginterverensi konsentrasi. Di sisi lain ada beberapa penelitian pula yang mengatakan bahwa musik dan suara justru dapat meningkatkan atensi dan tingkat konsentrasi dari seseorang. Artikel yang sama bahkan menulis:

Music you like increases focus, while music you don’t impedes it. Given the extreme variation in musical preferences from person to person, exposing your workforce or classroom to a single type of music would obviously end up with mixed results.

Lain lagi, sebuah artikel lain menimbang bahwa tidak ada efek yang jelas dan pasti akan musik dan efeknya pada konsentrasi pengendara, karena konten, volume suara, dan proses mengatur dan mengontrol musik dan radio lah yang saling berpengaruh sehingga tidak didapat kesimpulan yang menyeluruh.

Nyatanya mendengarkan musik sembari berkendara sudah menjadi salah satu aktivitas utama dari banyak pengendara. Hal tersebut semakin dipatenkan dengan hadirnya sound system dan radio compact yang dipasang di hampir setiap kendaraan. Suka ataupun tidak, produsen kendaraan pun secara sadar telah menjadikan aktivitas ini sebagai salah satu bagian utama dari budaya berkendara masyarakat.

Car Radio 2

Karenanya, reaksi yang ramai dalam bentuk dukungan maupun penolakan antara banyak pengendara atas hadirnya pernyataan dan interpretasi baru aturan ini bukanlah hal yang mengejutkan. Apabila aturan mendengarkan musik dilarang, berarti sudah sepantasnya tuntutan untuk mencopot radio dari mobil diberlakukan, bahkan dari tahap perancangan dan perakitan di pabrik mobil itu sendiri.

Dengan hasil mutakhir dari penelitian yang ada, pernyataan yang mengeneralisir yang dilakukan Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto pun juga patut dipertanyakan. Nyatanya preferensi musik setiap orang berbeda, sehingga efeknya pada berkendara pun juga berbeda-beda. Preferensi tidak menentu dan didukung dengan budaya yang telah mengakar dalam berkendara agaknya tidak dapat dipatahkan hanya karena penegakkan hukum yang sifatnya mengikat tanpa pandang bulu.

Justru yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran akan cara mengemudi yang aman, penuh konsentrasi dan kesadaran akan efek musik pada masing-masing pengendara. Hingga kini memang kita jarang melihat adanya sosialisasi yang baik dan komprehensif dari kepolisian maupun dinas perhubungan dan lalu lintas akan pentingnya kesadaran berkendara yang seharusnya terbangun bahkan sejak pelatihan dan ujian surat izin mengemudi.

Aturan yang memukul rata sebuah budaya yang mengakar tanpa melihat sebab-musabab dan bagaimana dampaknya tentu akan ditentang oleh banyak elemen masyarakat. Justru kini masyarakat melihat, bagaimana peran kepolisian sebagai pamong masyarakat, dan sepertinya untuk kasus musik, radio dan mengendara ini peran tersebut malah harus lebih ditingkatkan.

 

 

Iklan
About mikebm (1337 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: