Kabar Terkini

Undangan Menari dari Jakarta Concert Orchestra di Tengah Benderang Bulan


JCO 1

Tanggal 31 Januari merupakan tanggal yang cukup bersejarah. Fenomena supermoon, blue moon, dan gerhana bulan total terjadi malam itu. Taman Ismail Marzuki dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melihat fenomena langka itu. Tidak hanya fenomena bulan yang menarik orang untuk hadir ke Taman Ismail Marzuki, konser dari Jakarta Concert Orchestra juga membuat banyak orang memenuhi Teater Jakarta malam itu. Konser bertajuk Invitation to the Dance ini memainkan karya-karya yang membuat tubuh ingin ikut menari mendengar lantunan musik dari orkestra. Di bawah baton dari Avip Priatna, Jakarta Concert Orchestra siap untuk menghibur dengan karya-karya dari abad 19 dan 20 ditambah sebuah penampilan perdana karya anak bangsa.

Konser dibuka dengan Spanish Dance no. 1 karya Manuel de Falla. Tema dari komposisi yang cukup akrab di telinga ini dibawakan dengan baik oleh seluruh pemain orkestra. Tonalitas minor dan nuansa Spanyol terasa dari tiap nada yang dimainkan dengan setiap ritme dibawakan secara tepat. Setelah menari-nari dengan karya khas Spanyol, penonton dibawa ke Jerman melalui karya dari Carl Maria von Weber berjudul sama seperti tema konser, yaitu Invitation to the Dance (Aufforderung zum Tanz). Karya ini menggambarkan mengenai bagaimana seorang laki-laki mengajak seorang perempuan untuk berdansa dengannya. Karya diawali dengan permainan cello yang lembut dan kemudian disambut dengan para pemain tiup kayu, menggambarkan bagaimana seorang laki-laki mulai mendekati perempuan yang ingin diajaknya berdansa. Kemudian seluruh orkestra masuk dengan gaya waltz yang sangat kental.

Dari karya yang dinamis, selanjutnya tempo menurun melalui karya Pavane dari Gabriel Faure. Karya diawali dengan pizzicato dari seksi gesek yang kemudian disambut dengan solo flute bernada rendah dan ditanggapi oleh pemain tiup kayu lainnya. Untaian nada yang rapi terdengar setiap kali perpindahan tema dari satu alat musik ke alat musik lain. Kekompakan dalam saling memberikan nada tetap terdengar di karya yang berikutnya dimainkan, yaitu Panen Raya karya Fero Aldiansya Stefanus dan merupakan penampilan perdana malam itu. Karya yang menggambarkan tarian rakyat Indonesia saat menyambut musim panen ini diciptakan oleh Fero dengan sangat jenaka. Terdapat bagian di mana para penonton tertawa kecil ketika mendengarkan karya ini. Bagian yang menonjol dari karya ini adalah sahut-sahutan antar klarinet yang interaktif dan seakan-akan saling mengajak untuk menari bersama.

Karya yang dimainkan selanjutnya mengundang seorang pianis yaitu Jonathan Kuo. Totentanz ciptaan dari Franz Listz menjadi karya yang dipilih untuk mengajak para penonton masuk dalam jenis tarian yang berbeda. Jonathan memulai permainan pianonya dengan sangat kuat dan tegas, ditambah dengan seksi tiup logam yang membuat suasana pada awalnya terasa mencekam. Seiring karya dimainkan, Jonathan menunjukkan kepiawaiannya dalam memainkan dinamika di setiap dentingan piano yang dimainkannya. Avip juga berhasil membuat orkestra untuk responsif terhadap Jonathan, sehingga iringan orkestra menambah nuansa gelap dari karya Listz ini. Berakhirnya permainan dari karya Listz menandakan akhir dari babak pertama.

Selepas intermission, babak kedua dibuka dengan Norwegian Dances Op. 35 karya dari Edvard Grieg. Karya terdiri atas 4 bagian dengan tempo yang cenderung allegro. Karya ini menujukkan kekompakkan orkestra dalam bermain karena banyak bagian-bagian yang saling bersahutan antar seksi. Naik turunnya dinamika juga digarap dengan sangat baik oleh Avip, sehingga karya menjadi tidak monoton. Setelah karya asal Norwegia berakhir, masuklah seorang gadis dengan gaun putih ke atas panggung untuk menjadi soprano dari dua karya berikutnya. Beliau adalah Isyana Sarasvati dan karya yang dinyanyikannya adalah Les Filles de Cadix karya Leo Delibes dan Fruhlingsstimmen – Walzer, Op. 410 karya Johann Strauss II. Kepiawaian Isyana dalam menyanyikan karya dalam dua bahasa yang berbeda perlu diacungi jempol. Orkestra yang mengiringi Isyana juga responsif terhadap perubahan tempo di beberapa tempat pada karya Delibes. Ketika orkestra memainkan waltz dari Strauss juga dilakukan dengan stabil serta mengiringi solois dengan baik Isyana sehingga dapat menyambut orkestra dengan rapi.

Setelah kedua karya dengan solois sopran, masuklah karya terakhir pada hari itu yaitu Danse Bacchanale dari Camille Saint-Saens yang merupakan bagian dari opera Samson dan Delilah. Solo oboe membuka karya dan berhasil membawa pendengarnya ke nuansa Timur Tengah. French Horn sedikit goyah menyambut ketika solo oboe sudah berakhir, tetapi piccolo dan flute berhasil membawa kembali ke tempo yang tepat sehingga kemudian penampilan seluruh orkestra menjadi lebih stabil. Seluruh pemain menampilkan permainannya yang kokoh dan kuat sesuai dengan karakteristik dari karya Saint-Saens ini. Khususnya ketika bagian timpani bermain dengan fortissimo dan disambut dengan seksi tiup logam. Permainan yang megah berhasil menutup konser dengan penuh semangat dan energi yang positif. Sebelum konser berakhir, dimainkannya sebuah karya untuk encore yang sangat akrab di telinga pendengar, yaitu Hungarian Dance No. 5 dari Johannes Brahms.

Avip Priatna berhasil memimpin orkestra untuk mengajak para penontonnya untuk menari-nari melalui setiap lantunan nada yang dimainkan. Pemilihan karya yang memiliki benang merah tentang tarian merupakan suatu hal yang menarik, khususnya karena beragamnya tipe karya yang ditampilkan. Bravo untuk Avip Priatna dan sukses terus Jakarta Concert Orchestra!

JCO 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: