Kabar Terkini

Pak Suka Hardjana Telah Pergi


Suka Hardjana atau kerap dipanggil Pak Suko berpulang hari ini, Sabtu pukul 03:00 pagi di usia 77 tahun.

Beliau adalah musisi, pemikir dan esais mula-mula Indonesia di bidang musik. Suka Hardjana lahir di Wonosari, 17 Agustus 1940. Tidak berlatar belakang keluarga musik, Pak Suko bersentuhan dengan musik lewat kesehariannya dalam perjalanan ke sekolah. Dia kerap menceritakan ia jatuh cinta pada musik barat ketika melewati kampung Musikanan, Yogyakarta, yang seringkali terdengar sayup musik dari pelataran rumah warga kampung musisi kraton yang sedang berlatih.

Setelah memutudkan bersekolah di Sekolah Musik Indonesia, di dekade 1960-an Pak Suko adalah salah satu dari generasi musisi Indonesia yang merasakan pendidikan di Eropa, tepatnya di Jerman dan terlatih menjadi seorang klarinetis handal di Detmold. Ia juga sempat mengajar musik di sekolah musik di Jerman.

Namun, Pak Suko bukanlah seorang musisi yang hanya diam di tempat dan puas telah memainkan instrumennya dengan cemerlang. Setelah kepulangannya ke Indonesia di dekade 1970, justru dalam kapasitasnya sebagai pemikir musik dan budayawanlah, beliau semakin dikenal di masyarakat luas. Lewat sepak terjang dan esai-esai serta artikelnya yang hadir di koran dan majalah dengan oplah nasional, pemikirannya yang mendalam disertai keleluasaan mencakup bidang ekonomi, sosial dan budaya menjadi mata pisau yang membentuk pemikiran di masanya. Beberapa kumpulan tulisannya juga telah hadir dalam bentuk buku, baik berupa esai, kritik maupun ulasan-ulasan pertunjukan yang ia hadiri.

Di dunia komposisi, Suka Hardjana juga menjadi advokat dari musik baru di Indonesia dengan menggagas Pekan Komponis Muda lewat keterlibatannya di Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1979. Ia pun menjadi kurator Pekan Komponis Muda hingga tahun 1985 yang sedikitnya telah memberikan cetak besar arah perkembangan komposisi baru Indonesia kala itu. Pengetahuannya yang luas yang mencakup musik klasik, populer dan juga tradisi menjadi dasarnya dalam melakukan kurasi. Ia pun juga aktif sebagai dirigen Ensemble Jakarta, ensembel yang dibentuknya sendiri di tahun 1972 dan aktif hingga 1984. Ensembel ini juga pernah menjadi ensembel residen di Gedung Kesenian Jakarta.

Suka Hardjana juga tidak tedeng aling-aling dalam mengkritik dan membangun musik seni. Tulisannya tajam dan berani menguak beragam pemikiran. Bersama komponis Slamet Abdul Sjukur, ia adalah satu dari segelintir pelaku musik yang mampu berjalan di antara praktik dan pengkajian yang memiliki otoritas dalam pemikirannya. Ia pun sabar membimbing generasi muda melalui pengajaran maupun apresiasinya atas karya mereka. Di usianya yang lanjut, ia tetap aktif hadir dalam berbagai pergelaran seniman muda untuk memberikan apresiasi dan dorongan juga bahkan tidak segan melontarkan kritik yang membangun.

Suka Hardjana disemayamkan di RS Cikini dan akan diberangkatkan pukul 12:00 Sabtu ini ke Surakarta untuk dimakamkan.

Iklan
About mikebm (1328 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Kepergian Tokoh Musik Indonesia Suka Hardjana | Dewan Kesenian Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: