Kabar Terkini

Gesekan Biola Siswa-Siswi Muda Neo Capella Amadeus


Neo Capella 1

Yayasan Musik Amadeus Indonesia pada tanggal 12 April 2018 di Usmar Ismail mengadakan konser untuk salah orkestra yang dibentuk di Yayasan Musik Amadeus Indonesia, yaitu Neo Capella Amadeus. Orkestra tersebut dibentuk sebagai jembatan bagi siswa-siswi yang mengawali pengalaman bermain orkestra di orkestra anak-anak Capellita untuk ‘naik tingkat’ menuju Capella Amadeus String Chamber Orchestra. Konser ini dilaksanakan sebagai awal perayaan 25 tahun Yayasan Musik Amadeus Indonesia dan 10 tahun terbentuknya Neo Capella Amadeus.

Salah satu ciri khas dari orkestra ini adalah semua pemain bermain dengan berdiri kecuali cello. Setelah seluruh pemain alat musik gesek masuk, konser dibuka dengan karya dari Carl Stamitz, yaitu Quartetto Concertante in G-Dur. Karya ini terdiri dari tiga gerakan: Allegro con spirito, andante grazioso, dan presto. Ketika orkestra masuk bersamaan di setiap gerakan, semua eksekusi nada yang dilakukan terdengar indah. Solo yang dilakukan oleh prinsipal dari masing-masing alat terdengar sangat seimbang dan memainkan nada secara presisi. Kestabilan ketika orkestra mulai ikut masuk menyambut permainan prinsipal masih perlu diperhatikan. Secara umum orkestra dapat memainkan semua gerakan dengan sangat rapi.

Setelah karya pertama selesai, masuklah Hendri Waskita sebagai solois bassoon yang akan memainkan Bassoon Concerto in E minor, RV. 484 dari Antonio Vivaldi. Hendri adalah yang salah satu pemain bassoon yang aktif menjadi bermain di berbagai orkestra dan malam itu adalah sebuah kesempatan yang langka bisa mendengar solo bassoon di Jakarta, bahkan mungkin Indonesia. Ketika memulai karya, iringan orkestra memulai setiap gerakan dengan baik sehingga memudahkan Hendri untuk menyambut dalam solonya. Hendri menunjukkan fleksibilitas dalam memainkan setiap nada pada gerakan pertama, Allegro poco, dimulai. Permainan bassoon juga terasa romantis dan hangat khususnya ketika memasuki gerakan kedua, Andante. Tantangan terasa ketika solois bassoon dan iringan orkestra berusaha menyeimbangkan suara satu sama lain. Orkestra tampak berusaha untuk bermain pianissimo untuk menjadi fondasi yang baik bagi solois bassoon. Usaha dan kerjasama yang baik menghasilkan penampilan yang patut diacungi jempol. Karya ini menandakan akhir dari bagian pertama konser.

Setelah selesai intermission singkat, pemain alat musik gesek masuk dan diikuti juga dengan pemain oboe serta french horn. Dapat dikatakan karya berikutnya yang dimainkan merupakan kesempatan langka lainnya karena melihat duet antara dua instrumen yang dikenal sebagai pengiring orkestra, yaitu viola yang dimainkan Karina Budiathalia Soerjodibroto dan kontrabas yang dimainkan Nozomu Inoue. Dibandingkan dua karya sebelumnya, nama komposer kali ini cukup asing terdengar. Karya yang dimainkan merupakan ciptaan Carl Ditters von Dittersdorf, yaitu Sinfonia Concertante in D Major, Kr. 127 for Double Bass, Viola and orchestra. Pada karya ini, orkestra menunjukkan kepiawaiannya dalam membentuk dinamika untuk mengiringi dua alat yang memiliki suara rendah. Kedua solois bermain di atas panggung seperti mereka sedang berbicang santai, karena mereka saling menyahut nada demi nada dan saling mengisi kekosongan. Pada beberapa bagian, terkadang viola terlalu membaur dengan orkestra sehingga kontrabas terdengar mendominasi. Tetapi karya yang dimainkan ini memang bagian viola banyak tutti dengan orkestra dan kontrabas tampak lebih menonjol. Karya yang terdiri dari 4 gerakan ini berakhir dengan kompak

Setelah memainkan karya-karya abad 18, orkestra berpindah ke karya dari abad 20, yaitu oleh Benjamin Britten. Karya Simple Symphony Op. 4 dipilih untuk mengakhiri konser malam itu. Semua gerakan dimainkan pada malam itu dan masing-masing memiliki nama gerakan yang unik sekaligus menggambarkan gaya permainan dari masing-masing gerakan: Boisterous Bourree – Allegro ritmico, Playful Pizzicato – Presto possibile pizzicato sempre, Sentimental Sarabande – Poco lento e pesante, dan Frolicsome Finale – Prestissiomo con fuoco. Seluruh gerakan dimainkan dengan baik serta disiplin mengikuti dinamika yang ada. Secara visual, kekompakkan juga tampak dari bagaimana seluruh pemain menggesekkan bow dan juga saat meletakkan bow di lantai ketika perpindahan dari gerakan pertama ke gerakan kedua. Salah satu pekerjaan rumah pada gerakan kedua adalah dalam teknik pizzicato untuk dimainkan bersama-sama.  Terlepas dari itu, nuansa yang terbentuk dalam setiap gerakan dapat tersalurkan dengan baik sesuai dengan nama-nama dari masing-masing gerakkan. Seperti pada gerakan ketiga yang berhasil menyayat hati pendengarnya dan memberikan kesan sentimentil. Berakhirnya karya ini menandakan akhir dari konser.

Neo Capella 2

Kerapian dari Neo Capella Amadeus dalam memainkan alat gesek patut diacungi jempol. Segala usaha latihan yang telah dilaksanakan berbuah manis pada malam itu. Masih banyak ruang peningkatan, tetapi apresiasi setinggi-tingginya saya lontarkan pada anak-anak muda yang semangat mempelajari alat musik gesek dan menyuguhkan penampilan yang indah malam itu. Peningkatan yang semakin baik akan mampu membawa murid-murid yang bermain di Neo Capella Amadeus siap untuk tantangan yang lebih besar ketika masuk dalam Capella Amadeus String Chamber Orchestra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: