Kabar Terkini

Dari Utah ke Indonesia, BYU Singers Membangun Dialog


Tidak kerap Indonesia kedatangan paduan suara mahasiswa dari bumi bagian barat sana. Meskipun mantap masuk dalam peta perpaduan suara dunia, Indonesia tampaknya belum menjadi tujuan singgah paduan suara asing. Namun, kisah ini berbeda di Selasa kemarin dan sepanjang pekan ini di mana Brigham Young University Singers akan berkeliling Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali dan mempersembahkan musik untuk khalayak. MusicalProm menangkap pertunjukan mereka di Jakarta, Rabu 2 Mei 2018 kemarin.

Brigham Young University (BYU) Singers adalah salah satu paduan suara mahasiswa terbaik asal Amerika Serikat. Bermarkas di Brigham Young University, Utah dan digawangi Gereja Yesus Kristus dari Orang Suci Zaman Akhir atau kerap disebut Gereja Mormon yang dikenal dengan paduan suara besar Mormon Tabernacle Choir yang ternama itu,  BYU Singers beranggotakan 30 orang terbaik dari mahasiswa di kampus tersebut. Aktif menggelar konser, tur dan memproduksi video dan aransemen musik di beragam media, BYU Singers tampak telah memantapkan diri baik di dunia nyata maupun maya sebagai paduan suara yang aktif di skena perpaduansuara di AS.

Bekerjasama dengan paduan suara kebanggaan Indonesia Batavia Madrigal Singers (BMS), BYU Singers semalam menggelar pertunjukan di Usmar Ismail Hall sebagai bagian dari tur 3 minggu mereka ke Indonesia dan Vietnam. BMS dan konduktor Rainier Revireino membuka pertunjukan dengan dua karya ‘Fajar dan Senja’ dari Ken Steven dan ‘Gloria Patri’ Woo Hyo-won sebagai pemanasan bagi penonton. BMS tampil cukup prima namun hal menarik yang penulis tangkap adalah betapa besar perubahan gaya direksi Rainier yang kerap dipanggil Pepi yang kini terlihat rileks, mendetail dan efisien dibandingkan satu dekade lalu. Tidak heran untuk kesempatan ini ia dipercaya berdiri di podium menggantikan direktur musik Batavia Madrigal Singers, Avip Priatna.

Pergelaran kemudian dilanjutkan dengan BYU Singers membawakan tujuh karya yang mencakup motet renaisans dari Gallus ‘Jerusalem, gaude gaudio magno’ hingga karya baru Patrick Quaggiato ‘Kresna’. Karya Homilius ‘Dominue, ad adjuvandum me festina’ hingga ‘Avsenik Medley’ dari Kozlevcar juga dibawakan di bagian pertama konser ini. Setelah rehat, BYU  dan BMS juga kemudian berkolaborasi dalam karya Elaine Hagenberg ‘The Music of Stillness’ yang mendapat sambutan yang baik dari penonton. BYU Singers kemudian melanjutkan dengan karya ‘And Ode from the King’ dari Kameron Kavanaugh, Rheinberger dengan karyanya ‘Confitebor tibi, Domine’ dan dilanjutkan dengan empat aransemen menarik atas lagu tradisional,’Turkey in the Straw’, ‘Luk luk lumbu’, ‘Ibu Pertiwi’ yang mendapat sambutan meriah dan penutup ‘The Battle of Jericho’ dari Moses Hogan.

Batavia Madrigal Singers dan Brigham Young University Singers berkolaborasi

 

Di bawah arahan konduktor Dr. Andrew Crane yang memimpin paduan suara ini sejak tahun 2015, paduan suara ini sungguh menguasai karya dengan kedalaman yang sangat baik terlebih untuk karya-karya renaisans. Suara yang halus terbentuk dengan intonasi yang terjaga namun sekaligus lincah dan ringan menjadi daya tarik utama paduan suara mahasiswa beragam jurusan kampus ini yang menandakan pemahaman dan interpretasi yang menawan atas karya musik abad 15-16. Crane juga mengarahkan karya dengan mendetail dengan perhatian pada intonasi dan artikulasi yang sangat baik dan sangat sesuai untuk karya renaisans.

Namun demikian hadir pula di paduan suara ini, para solois yang ketika maju ke depan tampil karakter suara solo yang cukup matang, namun mereka mampu beradaptasi dengan baik dengan warna paduan suara keseluruhan yang jernih namun tetap hangat. Mereka juga mampu menguasai akustik Usmar Ismail Hall yang tergolong kering dan dalam pendekatan mereka yang musikal, kerap membuat penulis mampu mengimajinasikan ruang suara imajiner yang mereka mampu ciptakan.

Dengan suara yang tergolong belia, BYU Singers pun tetap mampu menggelar musik-musik aransemen dan juga karya yang terinspirasi musik Slovenia dari Patrick Quaggiato ‘Kresna’ yang dibawakan dengan hidup namun tetap mengandalkan permainan warna dan tekstur. Aransemen Budi Susanto Yohanes ‘Luk luk Lumbu’ mendapat sentuhan yang berbeda. Pendekatan BYU Singers yang didominasi penyanyi berkulit putih ini, dan hanya satu penyanyi berdarah Asia yang menunjukkan identitas aliran agama universitas mereka yang didominasi orang Kaukasia ini, menciptakan warna yang menarik lewat pendekatan mereka membangun suara glotal dan berbeda dengan kebanyakan paduan suara Indonesia.

Hal serupa juga terjadi di lagu ‘Ibu Pertiwi’ yang merupakan adaptasi dari himne Kristen asal Amerika ‘What a friend I have in Jesus’, Dibawakan dengan sangat menawan karena berasal dari melodi dan harmoni yang mereka kenal dengan penguasaan bahasa Indonesia yang jelas dan luar biasa, BYU mampu menghadirkan keindahan musik dan teks hingga menuai sorakan dari penonton malam itu. Karena penonton yang tak kunjung bubar, bahkan setelah sesi foto di panggung seusai konser, BYU dan BMS membawakan dua karya encore, buah terimakasih mereka untuk apresiasi penonton yang memenuhi Usmar Ismail Hall malam itu.

Satu komentar terngiang di telinga penulis yang disampaikan seorang kolega yang menanyakan sebelum konser, “bagaimana ya membawakan musik renaisans dengan benar dalam koridor kompetisi?” Malam itu entah mengapa penulis mendapat dua jawab bahwa yang dilakukan BYU adalah pendekatan yang benar dan sahih untuk musik renaisans, namun penulis pun yakin bagaimana paduan suara ini menghadapi tantangan karya ‘Hela Rotan’ dan “Luk luk lumbu’ agar terdengar mendekati paduan suara Indonesia. Namun lebih penting untuk menyentuh hati dengan upaya yang pembelajaran tulus dalam berdialog lewat musik dan lewat pertunjukan kemarin, dialog musik BMS dan BYU pun paripurna.

~ BYU Singers melanjutkan tur mereka di Bandung (4 Mei), Yogyakarta (8 Mei) dan Denpasar (9 Mei).

Iklan
About mikebm (1334 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: