Kabar Terkini

Jakarta City Phil Berselancar di Riak Air


Jakarta City Philharmonic (JCP), orkestra kota Jakarta, di Rabu malam ini berselancar menembus beragam karya. “Tirta”, demikian tajuk konser ke-12 dari orkestra ini, mengajak pemirsa untuk menjelajah impresi dan merenungkan makna air dan perairan dalam hidup.

Unsur air pun menjadi benang merah dalam rangkaian karya ini. Diaba oleh konduktor Budi Utomo Prabowo, konser semalam dibuka dengan karya Bedrich Smetana ‘Die Moldau’ yang berkisah tentang perjalanan air dari munculnya di sumber hulu sungai Vlatava di Ceko, menembus Jerman hingga bertemu dengan Laut Utara. Gelegak air yang awalnya kecil, berpadu hingga akhirnya melewati sungai yang mengalir, jeram, keluar masuk desa, hingga akhirnya berhilir di laut lepas. Arsitektur karya secara umum tergarap dengan baik. Sahut-menyahut seksi tiup kayu tercipta berbalas dengan seksi gesek, namun tidak semua pemain mampu menjalin alur dengan berimbang sehingga kontinuitas kerap menjadi tantangan tersendiri.

Trompetis Eric Awuy tampil ke muka untuk membawakan karya Trumpet Concerto karya Alexander Arutiunian. Permainan trompetnya jernih dan membaur bebas dengan orkestra. Orkestra pun membungkus permainan trompet dengan indah lewat garapan yang terinspirasi dari tarian gipsi, Rusia maupun cita rasa blues yang sempat tercerap beberapa saat dalam karya yang ditulis tahun 1950 ini.

IMG_0198

Seusai istirahat, ketenangan buaian air lewat orkestrasi sang konduktor atas karya “Anak Perahu” dari Mochtar Embut. Riak air yang tenang tergambar dengan manis dalam karya yang sedianya ditulis untuk solo piano ini.  Budi Utomo Prabowo terlihat mencoba meramu potensi keragaman suara instrumen orkestra yang dirasa cukup efektif untuk menciptakan karya yang lembut dan menawan ini.

Impresi ‘tirta’ ini tidak akan paripurna tanpa helat “La Mer” dari Claude Debussy yang berkisah tentang impresi laut yang tenang, bergelombang maupun berderai bersama dengan angin. Digubah tiga bagian, karya ini juga mewakili idiom musik Debussy yang terkesima dengan keunikan gamelan dan berusaha mencipta dengan inspirasi gamelan tersebut di atas instrumen dan gramatika musik Barat, menciptakan warna, modalitas seorang Debussy yang sangat unik dan deskriptif. Sang komponis dikenal sedemikian mencintai alam sehingga ia memandang alam sebagai agamanya dan hanya musiklah yang mampu mengutarakan keindahan alam yang misterius itu.

Di atas pentas, orkestra meskipun harus berjuang melawan akustik Teater Jakarta yang kering, tetap terproyeksi dengan baik. Orkestra pun terlihat sigap menanggapi gerak konduktor mereka, meski keseimbangan suara dan tekstur masih perlu digarap lebih jauh. Di beberapa tempat masih terlihat orkestra yang didominasi pemusik muda kurang memperhatikan kualitas warna suara dalam rangka membentuk diri sebagai satu unit yang padu, terlebih di atas panggung yang tidak memiliki ampun seperti Teater Jakarta ini. Dalam banyak karya malam ini, pengalaman dan kemampuan pemain untuk bermain sebagaimana bermain musik kamar sungguh teruji.

Budi Utomo Prabowo mengaba dengan sangat yakin dan menjadi pengawal lalu lintas nada yang sangat mumpuni. Seluruh aba pun disampaikan dengan jelas sehingga seluruh punggawa orkestra bisa berjalan di lajur yang lurus. Di tangannya, orkestra pun menawarkan pendekatan yang berbeda. Kerincian konduktor pun berimbas pada pendekatan yang cenderung ritmis dan mementingkan ketepatan, menciptakan interpretasi segar yang lain dari kebanyakan.

Di sisi lain, dengan konduktor telah demikian bersemangat, orkestra kerap terlihat terlalu berhati-hati sehingga terkesan tidak berani untuk mengambil waktu dan nafas lebih sehingga terkesan membatasi ruang ekspresi yang sebenarnya bisa digarap secara lebih berani. Pengutaraan dinamika pun dapat lebih meluas, di luar apa yang tertulis karena Debussy sendiri yang mengatakan, “Musik adalah ruang yang tercipta di antara nada.” Alhasil, beberapa tempat terkesan mekanistik, padahal membutuhkan sentuhan yang mengalir alamiah, sebagaimana tajuknya ‘Tirta’.

“Tirta” adalah zat yang menyejukkan, menghapus dahaga dan menciptakan kehidupan. Dan kehadiran Jakarta City Philharmonic adalah jawaban atas dahaga dan kegersangan musik klasik di Indonesia yang kerap merindukan dukungan dari pemerintah. Selama 12 pertunjukan, warga Jakarta dapat menikmati pertunjukan musik klasik secara gratis lewat uluran tangan Badan Ekonomi Kreatif. Dan bersama Jakarta City Philharmic, warga Jakarta pun dapat terus berselancar di antara peristiwa indah musik orkestra.

Iklan
About mikebm (1336 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Jakarta City Phil Berselancar di Riak Air

  1. Tommy Praboow // 20 Mei 2018 pukul 6:10 am //

    Thank you Mike sudah datang dan mengulas …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: