Kabar Terkini

Ruang-Waktu Jakarta City Philharmonic


Sabtu, 18 Agustus 2018, menjadi hari yang sangat spesial bagi masyarakat Indonesia. Pada malam itu Asian Games ke-18 resmi dibuka di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Upacara pembukaan yang sangat megah pun segera menjadi buah bibir di penjuru dunia. Di waktu yang sama, orkes Jakarta City Philharmonic (JCP) kembali mengadakan konsernya yang ke-15 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Dan menakjubkannya, Teater Jakarta pun nyaris tidak menyisakan kursi kosong, tetap dipenuhi ratusan Kawan JCP!

Seperti biasa, pertunjukan malam itu dibuka dengan pengenalan konser—kali ini oleh Aditya Pradana Setiadi—dan dilanjutkan dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Seperti biasa pula, hati dan jiwa penonton selalu bergetar setiap kali mendengarkan lagu kebangsaan kita itu, terlebih baru saja kita merayakan 17 Agustus sehari sebelumnya.

Konser bertema Ruang & Waktu itu dimulai dengan Simfoni Kecil untuk Sembilan Instrumen Tiup karya Charles Gounod. Penonton segera dibawa kembali ke era belle époque Prancis akhir abad ke-19. Keceriaan dan keindahan melodi terdengar di sepanjang 4 bagian karya tersebut. Bagaskoro Byar Sumirat, lulusan Yong Siew Toh Conservatory of Music, Singapura, bermain oboe sekaligus mengaba rekan-rekannya tanpa kesulitan yang berarti. Bagian keempat yang cukup menantang pun dapat disajikan dengan apik.

Setelah itu, nada-nada disonan dari Konserto Ganda untuk Dua Orkes Gesek, Piano, dan Timpani karya Bohuslav Martinů langsung menghadirkan suasana mencekam. Karya ini memang diciptakan saat krisis diplomatik sedang memuncak di seluruh dataran Eropa menjelang Perang Dunia II.

Setelah rehat sejenak, konser kembali dilanjutkan dengan karya jenaka Jean Franҫaix yang paling terkenal, Jam Flora. Bagaskoro yang menjadi solois oboe pun tampil dengan sangat memukau. Dialog-dialog dengan flute dan clarinet terjalin dengan sangat baik. Penonton memberi sambutan yang sangat meriah, hingga akhirnya Bagaskoro—saat ini menjadi principal oboe di Sun Symphony Orchestra Hanoi, Vietnam—memberikan satu suguhan solo tambahan sebagai encore.

Program terakhir malam itu adalah INTUISI: Sekuel untuk Orkestra dan Alat Rekam Elektronik karya komponis muda Indonesia, Misael Elahrens Tambuwun. Sebelumnya, JCP belum pernah menampilkan karya orkes dan alat rekam elektronik, sehingga pengalaman perdana ini menjadi cukup spesial bagi para penonton setia JCP. Dan sejalan seperti penuturan Misael pada sesi awal pengenalan karya, dalam mendengarkan karya ini kita seperti hanya singgah dalam secuil cuplikan pengalaman seorang anak yang mengalami gangguan tidur dan mimpi-mimpi buruk, tidak tahu di mana mulai dan berakhirnya. Karya ini menjadi bukti bahwa terkadang audio dapat lebih memberikan dampak dibandingkan dengan visual, apapun dampak itu, terlebih jika dalam rekaman tersebut samar-samar diselipkan sampel tawa anak-anak dan lantunan tembang Lingsir Wengi. Ibarat Symphonie fantastique-nya Berlioz, tapi versi lebih modern, lebih singkat, dan lebih seram, dan tentunya lebih Indonesia.

Misael juga sempat memberikan sebuah encore sebagai penetralisir ketegangan: Farewell Sonata. Sesuai judulnya, karya tersebut ia gubah saat harus meninggalkan Amerika Serikat menuju Rusia pada tahun 2014. Farewell Sonata telah dimainkan di berbagai belahan dunia, mulai dari Carnegie Hall sampai di Bandung, dan digubah dalam beberapa format musik, antara lain piano trio. Malam itu, Misael membawakan sendiri dalam format piano solo, dan kembali mendapat sambutan meriah dari penonton yang mengira konser telah benar-benar berakhir.

Puncak konser malam itu sepertinya ada di penghujung acara. Budi Utomo Prabowo selaku pengaba JCP kembali ke atas panggung mengenakan jaket olahraga menggantikan jas hitamnya—masih dalam rangka Asian Games 2018. Ia memberikan sedikit kata sambutan, bahwa di antara penonton sudah bergabung sekitar seratus orang dari tujuh kontingen paduan suara yang akan bersama menyanyikan Bagimu Negri karya Kusbini. Para pemain orkes pun sudah berbaur di area penonton, menciptakan efek suara stereo. Dua bait pertama dinyanyikan dengan sangat syahdu, dan dua bait terakhir dinyanyikan dengan luar biasa: setiap individu menyanyi dengan panjang nada yang berbeda-beda, menciptakan efek resonansi suara yang memenuhi seluruh relung jiwa. Sesuai dengan konsep aransemen Budi Utomo Prabowo, “Tiap warga negara memiliki waktunya sendiri, senantiasa berharap akan harmoni / keberhasilan bersama, hingga masyarakat adil dan makmur terwujud.”

Semoga.

Iklan

2 Comments on Ruang-Waktu Jakarta City Philharmonic

  1. Thank you Theo

  2. Wow keren banget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: