Kabar Terkini

Mengeksplorasi Dunia yang Baru Bersama Acacia Youth String Orchestra


photo6330065484409579517

Orkes gesek asal Bandung, Acacia Youth String Orchestra (AYSO), kembali mempersembahkan suatu penampilan musik di Balai Resital Kertanegara hari Sabtu tanggal 4 Agustus yang lalu. Orkes gesek bentukkan Arya Pugala Kitti yang juga concertmaster pada konser hari itu datang dengan membawakan karya-karya dari komposer yang beragam. Mulai dari jaman barok sampai komposer yang masih hidup. Orkes gesek yang kebanyakan merupakan pemain amatir asal Bandung membawakan dengan format orkes kamar yang terdiri atas 16 orang.

Pada babak pertama konser dimainkan 3 buah repertoire, yaitu Chatterhouse Suite karya Ralph Vaughan Williams aransemen James Brown, Violin Concerto in F Minor ‘Winter’ karya Antonio Vivaldi, dan Primavera Portena atau Summer karya Astor Piazzolla aransemen Leonid Desyatnikov. Permainan yang sangat dinamis terdengar pada babak pertama ini dengan perhatian terhadap detil-detil dinamika yang sangat teliti dan eksekusi setiap nada yang rapi. Hal yang menarik dari babak pertama ini adalah keputusan untuk menggabungkan karya Antonio Vivaldi bertema ‘Winter’ dan karya Astor Piazzolla bertema ‘Summer’. Piazzolla mengambil sedikit tema solo dari Winter – Vivaldi untuk karya Summer yang sangat khas dengan gaya Piazzolla yang membuat tubuh ingin bergoyang. Secara musikal, orkestra sangat responsif terhadap aba-aba concertmaster mengingat tidak adanya konduktor yang memimpin. Setiap solo memainkan bagiannya, pemain lainnya dengan sigap menurunkan dinamikanya untuk memberikan kesempatan solois untuk tampil. Babak pertama berakhir dengan penuh antisipasi terhadap karya-karya selanjutnya yang akan dimainkan.

Babak kedua memainkan karya yang lebih variatif, yaitu gerakan 3 dari Divertimento karya Bela Bartok, gerakan 3 dari Estampas Mexicanas yaitu Teotlalli (Land of Gods) karya Jose Elizondo, Lullaby karya George Gershwin aransemen Jeff Manookian, Hoe Down karya Aaron Copland, dan Suita Jawa yang digubah oleh sang concertmaster sendiri. Pada karya Jose Elizondo, Sarah Tunggal diundang sebagai solois flute dan Arya berganti posisi menjadi konduktor. Dapat dipahami keputusan Arya menjadi konduktor pada karya Elizondo mengingat pada karya tersebut banyak terjadi perubahan time signature yang memerlukan perhatian khusus. Bagaimana AYSO beradaptasi untuk menjadi pengiring solo flute menunjukkan fleksibilitas AYSO sebagai pemain orkes kamar. Sarah selaku solois mampu memainkan karyanya dengan intonasi yang presisi dan luwes, didukung dengan para pemain orkes gesek sebagai pengiring yang baik.

Dilanjutkan dengan karya Gershwin dan Copland, karya Lullaby dan Hoe Down dengan gaya yang kontras memberikan kesan yang menarik dalam konser malam itu. Lullaby yang dibawakan begitu mendayu-dayu dan memberikan ketenangan pada pendengarnya. Setelah disuguhi banyak karya yang bertempo cepat, karya Gershwin ini dibawakan dengan penghayatan penuh sehingga meskipun cukup panjang tetap menarik untuk didengar. Hoe Down yang dibawakan kemudian kembali membangunkan para penonton dengan permainannya yang penuh semangat. Teknik permainan yang tampak cukup rumit berhasil dimainkan oleh AYSO dengan rapi sehingga menghasilkan warna suara yang cantik dan begitu membaur satu sama lain. Setelah memainkan karya Copland, sebagai penutup konser dimainkan karya dari sang concertmaster sendiri berjudul Suita Jawa yang di dalamnya terdapat 4 gerakan yang berasal dari lagu-lagu Jawa, yaitu Gundhul Pacul, Lir-Ilir, Bengawan Solo, dan Cublak Suweng. Suita Jawa ini terdengar sangat khas aransemen dari Arya dengan beberapa bagian dimainkan oleh solo biola. Setiap gerakan dimainkan dengan baik dan meninggalkan kesan yang baik juga untuk akhir dari babak dua.

photo6330065484409579515

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan setelah karya terakhir dimainkan, akhirnya penonton disuguhi 2 komposisi lain untuk menutup konser. Pertama adalah sebuah lagu dangdut berjudul Jaran Goyang yang diaransemen Arya Pugala Kitti. Ketika pertama kali mendengar, penonton diajak untuk mendengarkan permainan yang khas klasik dengan aksentuasi ketukan pada badan alat musik dan dibiarkan bertanya-tanya mengenai karya apa yang dimainkan. Ketika masuk dalam melodi, akhirnya baru diketahui bahwa lagu yang dimainkan adalah Jaran Goyang. Lalu yang kedua adalah Pavane dari Maurice Ravel. Karya yang biasanya diawali oleh solo flute ini dimainkan dengan hati-hati dan stamina yang tetap terjaga setelah babak 2 yang cukup panjang. Setelah mengakhiri konser dengan karya yang sangat tenang dibandingkan karya-karya sebelumnya, konser akhirnya ditutup.

Melihat perkembangan AYSO dibandingkan dengan konser tahun sebelumnya menunjukkan optimisme untuk berkembangnya musik di Bandung. Warna suara yang mulai terbentuk ciri khasnya menunjukkan betapa gigihnya keinginan AYSO untuk terus berkembangan ke arah yang lebih baik. Karya-karya yang dipilih juga tidak membosankan untuk pendengar awam, tetapi tetap memanjakan telinga para penggemar musik klasik. Maju terus dan sukses terus untuk AYSO!

Iklan

1 Comment on Mengeksplorasi Dunia yang Baru Bersama Acacia Youth String Orchestra

  1. Wow, keren banget 👍👍👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: