Kabar Terkini

Mengajarkan Selera, Krusial dan Dibutuhkan


Mengajar musik kerap dianggap sebagai hal yang remeh-temeh. Meskipun profesi guru dipandang cukup signifikan dalam masyarakat kita, namun pada praktiknya tidak sedikit dari guru-guru musik sibuk berkutat pada bahasan permukaan dan bukan pada hal substansial, yakni membentuk murid dengan selera yang baik.

Pengajaran musik sering dipandang dalam dua aktivitas, yakni pembentukan teknik dan kemudian mengajarkan musik dan ekspresi itu sendiri. Aktivitas pengajaran teknik bermain instrumen adalah sesuatu yang sering menjadi perhatian utama. Bagaimana bermain alat musik dengan benar dengan teknik dan keterampilan motorik yang benar menjadi fokus dalam pembelajaran. Beragam metode pun telah diciptakan untuk membantu siswa belajar teknik permainan musik. Beragam karya etude juga ditulis untuk meningkatkan keterampilan permainan sang murid.

Namun hal yang kedua, yakni mengajarkan musik dan ekspresi, seringkali tidak menjadi bagian yang jelas dalam pembelajaran musik. Di sini, hanya guru yang cakap yang mampu meramu karya dan metode pendukung untuk memastikan murid mempelajari apa ekspresi dalam musik. Namun, mempelajari ekspresi musikal haruslah didasari oleh selera yang baik, karena selera ini yang akan mengarahkan ekspresi seperti apa yang dihadirkan dalam musik, terlebih dengan beragam pilihan yang terbuka untuk diambil oleh guru maupun siswa itu sendiri.

Kemampuan siswa untuk menangkap ide musikal adalah satu permasalahan, namun kemampuan guru untuk mengajarkan dan meneruskan selera musiknya justru adalah kunci dalam mendidik murid yang musikal dan ekspresif. Guru dengan selera musikal yang kokoh dengan kemampuan mengajarkan selera tersebut sangatlah istimewa dan juga tergolong langka. Terlebih dengan sempat menjamurnya sekolah musik di kota besar di Indonesia, tidak banyak sekolah yang memilih dan memilah guru secara ketat sehingga tidak sedikit guru-guru yang tidak kompeten, yang bahkan masih kesulitan untuk mengajarkan teknik yang benar, alih-alih mampu mengajarkan selera bermusik yang baik.

Selera adalah kata yang kerap terimbuhi beragam makna. Di satu sisi, ia menggambarkan sebuah kepercayaan yang didapat dan dipelajari, di sisi lain, selera juga merujuk pada keragaman cara pikir dan pandangan. Dua hal ini mengacu pada selera itu beragam, dan kesemuanya bisa dipelajari, asalkan kita terpapar padanya. Karenanya, sangat krusial untuk memilih selera bermusik macam apa yang akan dipelajari.

Selera bukan hanya berbicara soal jenis musik atau gaya musik, tapi sungguh belajar bagaimana menampilkan seni yang berkualitas. Dalam dunia seni yang sibuk bereksplorasi dan berinovasi, meregangkan batas-batas estetik, akhirnya selera yang menjadi kunci pengarah dan bahkan menjadi garis tipis antara seni dan sampah.

Dalam seni pra-industrialisasi, tidak jarang nyantrik atau apperenticeship menjadi satu-satunya cara untuk belajar selera. Murid tinggal bersama guru, bersama guru setiap hari mengamati karya, hidup dan nafasnya dan bahkan relasi keduanya kerap seperti orangtua dan anak agar mampu menangkap bukan hanya teknik tapi juga selera dan bahkan ruh dari seni yang ditekuni. Dalam dunia seni industrial, peran guru yang mengajar banyak murid menjadi sentral. Walau pengajaran dan pembelajaran tidak lagi seintens nyantrik, tetapi satu orang guru bisa menularkan selera ke lebih banyak murid.

Guyonan “bagus itu relatif tapi jelek itu mutlak” bisa jadi ada benarnya apabila kita berbicara soal selera. Alhasil, setiap kita secara aktif maupun pasif ‘memilih’ selera apa yang dianut sejalan dengan guru macam apa yang dipilih bagi sang murid. Guru-guru hebat adalah mereka yang secara terperinci mampu mengajarkan selera musik bagi murid-muridnya. Berbekal selera tersebut, murid tidak hanya mampu meniru, tetapi dapat menjelma sebagai musisi dewasa yang mampu memilah dan memilih ekspresi estetisnya sendiri secara mandiri.

Yang celaka adalah ketika guru justru tidak mampu mengartikulasikan selera musik tersebut dalam kegiatan belajar-mengajar. Alih-alih menghasilkan murid berkualitas, murid paling berbakat sekalipun justru jatuh terjerembab karena kegagalan guru mengajarkan selera bermusik. Tanpa selera yang kuat, murid hanya jadi peniru tanpa integritas seorang seniman untuk berekspresi secara personal.

Guru dan selera tidak dapat dipisahkan. Dan mencari guru musik dengan selera yang baik dan kemampuan mengajarkannya adalah hal lain yanh bisa jadi sangat menantang untuk semua penyelenggaraan pendidikan seni di mana pun berada.

Iklan
About mikebm (1339 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: