Kabar Terkini

Merayakan Persatuan bersama JCP


~ oleh Martin Soemarsono

Mengingat Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi besar tahun depan, tema yang diusung oleh Jakarta City Philharmonic (JCP) adalah “Persatuan”.  Tidak dapat dipungkiri, persatuan memang merupakan tulang punggung Indonesia, sebuah negara yang merangkum ribuan pulau dan ratusan juta penduduk yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.  Di konser ke-16 JCP, persatuan ini dinyatakan melalui seleksi repertoar yang digubah oleh tiga komponis yang memiliki latar belakang berbeda.  Trompetis Eric Awuy memberikan pengenalan singkat mengenai karya-karya yang akan dimainkan malam itu kepada para pemirsa konser di Taman Ismail Marzuki, dilanjutkan oleh lagu dimainkannya lagu kebangsaan Indonesia, Indonesia Raya.

Karya pertama yang dipersembahkan oleh JCP adalah komposisi orisinil dari Singgih Sanjaya, Nagara Krtagama.  Inspirasi di balik komposisi ini adalah teks karya Mpu Prapanca yang memiliki nama yang identik dengan karya ini.  Karya Mpu Prapanca ini menceritakan perjalanan raja Hayam Wuruk saat berkeliling pulau Jawa pada pertengahan abad ke-13.  Dengan format menyerupai puisi simfonik (symphonic poem) yang dicanangkan Franz Liszt, Nagara Krtagama merupakan karya simfonik yang mengilustrasikan sebuah kisah yang koheren dan dikemas dalam satu bagian (movement).  Singgih Sanjaya menunjukkan daya imajinasinya yang luar biasa serta keahliannya dalam melukiskan sebuah situasi dan atmosfir sebuah cerita ke dalam karya musiknya. Perpaduan motif dan instrumentasi layaknya musik untuk film ini meningkatkan intensitas karya ini.  Di dalam Nagara Krtagama juga terdapat penggunaan tangganada khas Indonesia, seperti tangganada pentatonik Pelog asal Jawa Tengah, di dalam tema yang dapat dengan mudah dikenali oleh penonton.

Marini Widyastari, solois flute JCP

Selanjutnya, JCP menyuguhkan sebuah Konserto Seruling (Flute Concerto) dari seorang komponis abad ke-20 dari negara Prancis, Jacques Ibert, dengan solis Marini Widyastari. Ibert menyatakan bahwa di dalam konserto yang ia gubah ia berusaha untuk menonjolkan kemampuan ekspresif serta rentang not dari instrumen musik solis.  Dalam hal konserto untuk seruling ini, Ibert ingin mempertunjukan kelincahan seruling di tangan seorang virtuos dan di saat bersamaan menunjukkan sisi sentimental dan kedalaman seruling dalam berekspresi.  Marini, dengan iringan JCP, berhasil membawa penonton dalam sebuah petualangan dengan mengundang penonton mengikuti setiap not yang mereka mainkan.

Karya musik ini sendiri juga sangat menarik karena Ibert juga banyak menggunakan pola ritmik yang tidak konvensional, seperti poliritme, sinkopasi, dan not-not sambung yang melampaui garis bar.  Meskipun Ibert adalah komponis yang berkewarganegaraan Perancis, Ibert menarik inspirasi dari berbagai jenis musik dari berbagai penjuru dunia.  Hal ini menyebabkan terdengarnya pengaruh musik non-Perancis di bagian-bagian tertentu dari karya ini, seperti pengaruh musik Leonard Bernstein dari Amerika Serikat dan bahkan, Eric Awuy menyatakan bahwa ada bagian yang menyerupai musik keroncong dari Indonesia. 

Setelah jeda selama 15 menit, JCP melanjutkan konser dengan karya terakhir konser bertema “Persatuan” ini: Simfoni No. 4 dari Johannes Brahms.  Simfoni No. 4 ini adalah karya simfonik terakhir dari Brahms yang ditulis pada saat ia berusia 52 tahun.  Karya ini ditulis dalam format simfoni konvensional yang terdiri dari empat bagian berbeda.  Gerakan pertama bertempo cepat dan menunjukkan keresahan dalam atmosfir musiknya, dilanjutkan oleh gerakan kedua yang memiliki tempo yang bertolakbelakang dengan gerakan pertama.  Gerakan kedua bersifat lebih liris dengan tempo yang juga lebih lambat.  Bagian ketiga simfoni ini merupakan tarian cepat yang menghentak dan ditutup dengan bagian keempat yang ditulis dengan gaya chaconne zaman barok dengan bass yang terus-menerus bergerak.  Meskipun ada beberapa saat dimana bagian-bagian orkestra tidak bermain dengan sinkron di bagian kedua dan keempat dalam karya ini, bagian pertama dan ketiga dari karya ini dieksekusi dengan gemilang.

Budi Utomo Prabowo, konduktor Jakarta City Philharmonic

Tema-tema musikal yang dipersembahkan oleh JCP menggugah seluruh penikmat musik orkestra pada malam itu dan, sesuai dengan tema yang dipilih oleh JCP bulan ini, mengajak penonton yang beragam untuk bersatu dan mengapresiasi dan memajukan karya seni musik Indonesia.

~ Martin Soemarsono adalah pianis muda yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Principia College, AS dengan mayor Musik dan Ilmu Komputer. Kini menetap di Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: