Kabar Terkini

Memahami Papua Melalui Tangisan Fantine

Sejumlah warga yang tergabung dalam Solidaritas Masyarakat Jogja Cinta Papua Damai melakukan unjuk rasa di kawasan Nol Kilometer Yogyakarta, DI Yogyakarta, Senin (2/9/2019). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/wsj. Baca selengkapnya di artikel "PBNU: Hindari Pendekatan Militeristik di Papua", https://tirto.id/ehMV

Menjadi manusia bebas di negara bernama Indonesia sungguh penuh teka-teki. Padahal berbicara tentang kebebasan di dalam negara, maka seharusnya sudah terdapat kesepakatan yang jelas dalam membatasi kebebasan tersebut. Di sini lah letak teka-teki tersebut? Misal, sementara para tokoh agama penentang kebhinekaan bangsa bisa melenggang kangkung dengan ragam provokasinya bahkan memperoleh panggung legal di agenda Pendidikan dan literasi, justru pengacara rakyat Papua, Veronica Koman dijadikan tersangka oleh kepolisian karena kasus rasis yang dialami oleh kliennya. Contoh lain, bagaimana partai-partai bernafas agama justru menjadi batu sandungan utama pelolosan RUU KUHP tentang pelecehan seksual. Ini adalah pengingkaran terhadap sila pertama dan kedua, karena susah untuk dibayangkan bagaimana manusia yang menyatakan dirinya percaya pada Tuhan, adil, dan beradab tapi saling menjaga keberlangsungan hidup sesamanya saja mereka enggan?

Dalam mendekati jawaban atas teka-teki kebebasan bernegara di atas kita dapat mendedah sedikit potret konflik dalam kasus Papua. Yang menarik bagaimana potret konflik Papua dapat kita saring melalui sebuah karya seni lagu. J’avais rêvé d’une autre vie (Aku Memimpikan Sebuah Kehidupan Lain) adalah sebuah gubahan untuk penyanyi tunggal perempuan di dalam drama musikal Les Misérables (Kaum Malang).

Drama ini sendiri bersumber dari buku berjudul sama karangan Victor Hugo. Walau kemudian dibuatkan bentuk pertunjukan dalam Bahasa Perancis, namun lakon yang berlatar waktu Revolusi Perancis ini menemukan puncak popularitas dalam bentuk Bahasa Inggris yang dialihbahasakan oleh wartawan cum lirikis Herbert Kretzmer. J’avais sendiri dialihbahasakan oleh Kretzmer menjadi I Dreamed A Dream (Aku Memimpikan Sebuah Impian).

Ketika kata tidak terucap, musik mengalir.

Sebagaimana ungkap saya, dengan membatasi hanya pada J’avais, setelah membaca dan membandingkan antara versi asli Bahasa Perancis dan terjemahan Inggris di dalam karya versi Perancis ini kita menemukan suatu simbolisasi konlik antara; rakyat diwakili oleh tokoh Fantine, birokrat korup diwakili oleh serigala, pencuri pria, dan paling ironis adalah simbolisasi hidup itu sendiri sebagai negara.

Secara khusus untuk saat ini bayangkan anda menjadi rakyat Papua, apakah impian rakyat selain untuk hidup bebas dan merdeka? Bagi manusia berakal budi tiap detik seyogyanya adalah sebuah perayaan kemerdekaan.

Je voulais rire, aimer et vivre, (I wanted to laugh, to love and to live)
Danser jusqu’à la fin du bal, (To dance ’til the end of the ball)
Ivre du bonheur d’être libre. (Drunk on the happiness of being free.)

Tidak ada seorang pun manusia bernalar yang bebas dari keinginan di atas, di negara apapun, warga negara apapun. Tidak terbayang ada satu individu yang dengan sukarela menyerahkan perihal di atas, yang sayangnya, hal tak terbayangkan ini telah kenyang dialami oleh saudara kita bangsa Papua. Bahkan sejak awal mula mereka terlibat dengan negara ini. Siapa dan apa penyebab penderitaan bumi Papua?

Mais les loups rôdent dans la nuit; (But wolves prowl in the night)
Et l’un d’eux flairait ma trace. (And one of them caught my scent)
Moi, j’ai comblé l’appétit  (So I sated the appetite)
Du premier voleur qui passe. (Of the first passing thief.)

Siapakah mereka yang berburu dan berkomplot menjadi pencuri pertama? Bahkan untuk menjawabnya kita juga perlu membuka kenangan kelam dan gelap tragedi 1965 yang mengawali mimpi buruk Papua.

2019. Lebih dari 4 dasawarsa berlalu, dan setahun lalu Indonesia seolah bersorak ketika dari tanah Papua ada kabar kealihpemilikan lobang sumber daya alam terbesar di dunia. Tapi apa yang mungkin dirasakan oleh mereka yang mengalami langsung ketidakadilan tersebut di pulaunya?

Il a accoutumé ma vie, (He had accustomed my life)
À la chaleur de sa présence. (To the heat of his presence)
Et puis un jour il est parti (And then, one day, he was gone)
En m’ayant volé mon enfance. (Having stolen my childhood)

Apakah mereka bisa kita harap langsung pulih setelah melalui hampir setengah abad ketidakadilan? Setelah masih mengandalkan sukarelawan gerakan kemanusiaan demi peningkatan Pendidikan dan kesehatan? Apakah pengadaan infrastruktur adalah segalanya untuk memperbaiki dan merekonsiliasi segala hal, luka dan borok yang tertinggal mendalam? Mungkin yang dibutuhkan semata penyesalan nan tulus dan nyata dalam keseharian.

Parfois je rêve de lui encore: (Sometimes I still dream of him)
Il me supplie et il regrette.  (He pleads with me and he repents)

Penebusan bagi seluruh rakyat Papua, bukan hanya mereka yang di perkotaan atau difasilitasi infrastruktur, namun di tempat yang bahkan masih membutuhkan hitungan pekan untuk rakyat biasa mencapainya. Komunikasi terbuka empatik dalam setiap kesempatan, bukan ancaman popor dan peluru berujung dominasi dan kekerasan. Ini adalah harap mereka, dan saat ini masih sekadar impian yang bukan hanya memudar, bahkan mungkin sudah menjadi remahan yang mereka relakan terbawa angin.

Mais le rêve s’éteint à l’aurore, (But the dream fades at dawn)
Comme les lampions d’un soir de fête. (Like paper lanterns the morning after a party.)

Sebuah Ode untuk Papua

Papua hanya penulis ketahui dari paparan tekstual sejarah dan yang paling dekat juga melalui korespondensi daring (online correspondence) dengan beberapa teman mereka yang memang penggerak pendidikan kemanusiaan di sana. Salah satu yang menancap di benak penulis bila mengingat Papua tentu adalah Yang Menyublim Di Sela Hujan, sebuah memoir dari Fawaz Al Batawy saat ia menjadi pengajar Sokola Rimba di Mamugu Batas Batu, Agats. Buku ini merupakan sebuah lukisan indah sekaligus satir, bagaimana bumi yang kita asingkan ini bisa menampilkan kelindan wajah empati kebhinekaan (keseharian tim Sokola yang mayoritas Muslim dengan tim Paroki Mamugu Batas Batu), sosio-ekonomi (gegar perekonomian dari gaya hidup berburu-meramu menjadi buruh pelabuhan), hingga belajar merdeka sepanjang hayat (proses Sokola yang semula hanya untuk anak-anak, namun berkembang hingga orang dewasa sekampung juga diajar).

Penulis berharap melalui tulisan ini, sebagaimana karya Fawaz di atas,  terutama melalui pemahaman akan karya J’avais pembaca lebih luas akan melebarkan jendela empati terhadap mereka yang mengalami pelik konflik dan luka oleh negara beserta aparat. Karena ini pula penulis memilih untuk menggunakan versi asli Perancis dari lagu tersebut, yang simbolisasinya kepada keadaan sosio politik lebih kuat dari terjemahan Inggris Kretzmer yang terlalu berfokus kepada ekspresi penderitaan Fantine saja.

Melalui Fantine yang versi Perancis kita menemukan suara (voice) Hugo akan kegelisahannya terhadap ketidakadilan Perancis. Sebuah fenomena yang ternyata melampaui jamannya, dan bahkan bisa kita temui di saat ini, di Indonesia, masih dialami oleh saudara sebangsa kita. Walau tidak menjawab dan memberikan sebuah solusi bagi isu identitas kebangsaan, namun semoga tulisan ini, bisa menjadi sebuah ode bagi ketidakadilan bagi sebangsa kita Papua dan Veronica Koman. Melalui tangisan Fantine semoga kita bisa memahami saudari-saudara kita Papua.

 

Sumber-Sumber Acuan

 

Literatur Cetak
Al Batawy, Fawaz. 2017. Yang Menyublim di Sela Hujan. Yogyakarta: EA Books.

 

Literatur Daring
CIA Menggulingkan Sukarno demi Emas di Papua. https://historia.id/politik/articles/cia-menggulingkan-sukarno-demi-emas-di-papua-DWVoM

Herbert Kretzmer Lyricist
http://www.herbertkretzmer.com/biography.html

 

Rekaman Pertunjukan
Ita Graffin (Fantine) – J’avais Rêvé D’une Autre Vie (Les Miserables En Concert)
https://www.youtube.com/watch?v=tkZsjdP4lDc

 

Lirik Terjemahan
https://www.youtube.com/watch?v=dlE5CL0m2hE

Foto: ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/wsj.

About JC Pramudia Natal (7 Articles)
Educator and Musician. I have been teaching and educating since 2001. My field mostly cover Humanities, majoring in Literature and Art and minoring in Music Performance. In my spare time outside of teaching i play piano, sing in a choir, read books, and sometimes write column or essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: