Kabar Terkini

Potret Musikal Pencarian Identitas


Di seri IX Jakarta City Philharmonic kembali memaparkan suguhan musik seni yang secara tersurat senantiasa menampilkan kualitas bunyi nan mumpuni dan di saat bersamaan selalu tersirat pesan antara tema yang diangkat dengan kenyataan yang sedang terjadi di sekitar mereka belakangan. Tema konser Menggaru Akar Rumput Tanah Harapan tentunya tidak lahir dari kehampaan, terutama mengingat bagaimana selama beberapa waktu terakhir isu politik-sosio-ekonomi berbasis identitas kencang berhembus; terutama di Ibu Kota yang masih dalam fase bulan madu dengan kepala daerahnya yang baru.

Dalam bukunya Memahami Negatifitas, ilmuwan filsafat Francisco Budi Hardiman memaparkan bahwa foto merenggut sebuah momen dari kenyataan, dan membingkai sekaligus mereduksi kenyataan tersebut. Dalam relasinya dengan kenyataan, setiap karya seni melakukan hal yang sama, dan musik sebagai cabang seni mencapai keadiannya karena komposer menerjemahkan kenyataan yang ia persepsi ke dalam bahasa yang melampaui simbol visual – Schopenhauer. Sastrawan Budi Darma bahkan memaparkan karya seni (sastra) yang adiluhung adalah yang memungkinkan penikmatnya mengalami katarsis/penyucian diri karena dikonfrontir antara interpretasi karya seni terhadap kenyataan dengan keberadaan kenyataan itu sendiri.

Hanya perlu sesaat untuk mengaitkan judul nomor-nomor penampilan dengan latar inspirasi mereka. Revolt In Paradise yang diakui secara jujur oleh komposernya Andreas Arianto Yanuar lahir setelah ia membaca buku berjudul sama karya K’tut Tantri. Pemilihan instrumen lembut harpa sebagai solis memantik penasaran bahkan seorang Eric Awuy, apakah bunyi harpa mewakili revolt atau paradise? Atau justru Andreas, secara subtil, mereinterpretasi revolusi identitas Muriel Stuart Walker dari seorang Skotlandia Amerika menjadi seorang Bali Indonesianis yang justru dicapai di tengah kekalutan perang kemerdekaan?

Dalamnya pesan kerumitan identitas dilanjutkan dengan nomor-nomor yang berasal dari salah satu negara melting pot, Amerika. Appalachian Spring yang mencoba memotret semangat dan ruh Amerika yang sejati, bunga rampai (medley) West Side Story Leonard Bernstein aransemen Jack Wilson yang mengingatkan bagaimana komunitas berbasis Puerto Rico mencari jati diri di tengah kota Apel Raksasa. Dan terakhir ditutup oleh karya dari salah seorang komposer musik seni Amerika yang mengalami pergulatan identitas, Concerto in F George Gershwin.

Merengkuh Kebhinekaan Identitas

​Dalam Ilusi Identitas, filsuf Amartya Sen memaparkan bahwa setiap saat manusia bergulat untuk menentukan prioritas identitasnya. Oleh karena itu praktik swa-refleksi berperan penting sebagai wahana dialog internal untuk merengkuh kebhinekaan identitas yang dimiliki seseorang. Dialog internal ini juga acap ditemui di dalam pagelaran JCP semalam. Dalam Revolt in Paradise Andreas Arianto dengan jeli memotret dialog alam sawah Bali era kemerdekaan melalui percakapan antara seksi perkusi dan tiup kayu. Dan kehadiran alunan solis harpa oleh Rama Widi seolah-olah merepresentasikan sosok K’tut Tantri, jauh dari akar identitasnya, menggaru identitas baru di tanah pertiwi, yang bangsa aslinya juga sedang berkemelut menggaru pengakuan identitas; direpresentasikan oleh ketegangan yang dibangun oleh seksi gesek. Kerumitan sinkopasi tiap seksi juga seolah mencoba menggambarkan kemelut yang tidak luput dialami tanah Dewata selama era Kemerdekaan.

​Dialog intens kembali ditemui ketika kita mendengarkan sahut menyahut solo piano oleh Stephen Kurniawan Tamadji dengan seksi gesek dan dengan seksi tiup dalam Concerto in F Gershwin. Sinkopasi jazz yang dileburkan ke dalam konstruksi (tersirat) konserto klasik oleh Gershwin sungguh-sungguh menantang tidak hanya pemusik namun juga pendengar untuk mencerna bahwa ya orchestra yang bermain semalam itu seolah bergoyang jazz ala Afro-Amerika dengan tetap bergerak bersama secara disiplin khas komposisi Eropa. Di nomor West Side Story dialog terjalin lebih harmonis dan mengundang penonton menikmati alunan musik bernuansa Latin, sementara di saat yang sama warna seksi tiup berkelindan rancak dengan seksi gesek seolah-olah memvisualisasi bagaimana komunitas Latin sedikit banyak saat itu sudah hadir dan beradaptasi dalam dinamika kota New York. Komposisi dan skenario West Side Story, sebagaimana yang dikatakan mas Eric di awal konser, memang didayagunakan Bernstein merengkuh segmen anak muda sehingga mereka lebih tertarik untuk menekuni musik seni. Dialog semakin terasa menyublim dalam Appalachian Spring yang memang oleh musikolog Amerika “disepakati” sebagai musik yang mencerminkan semangat dan citarasa Amerika Sejati.

​Entah apakah sebuah kebetulan juga bahwa baik Andreas selaku komposer, beserta Stephen dan Rama Widi selaku solis, juga kini tidak semata berkarya di dalam ranah musik seni. Andreas dengan latar belakangnya sebagai klarinetis dan Sarjana Komposisi UPH kini menjelajah ranah yang jauh lebih populer lewat Forte Boy Music. Sementara Stephen menancapkan identitasnya dalam ranah musik populer melalui kelompok vokal Warna. Dan terakhir Rama Widi memperluas khasanah penampilan harpa dengan album solonya Let The Music Play.

​Tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan semalam jika dilihat secara menyeluruh, dan sebagaimana penampilan-penampilan sebelumnya, direncanakan dan dibangun dengan visi yang sangat tajam. Pemilihan tema konser, karya-karya, dan bahkan solis dirancang-bangun secara ketat untuk memperkuat pesan tema pencarian identitas (Akar Rumput dalam kasus konser semalam) tersebut. Salut juga tentu saja harus dialamatkan kepada Budi Utomo Prabowo selaku pengaba beserta tim orkestra di atas panggung dan tim belakang panggung yang setiap bulan bisa berkesinambungan menawarkan pengalaman panggung menyeluruh macam ini. Mengulang pesan Budi Hardiman, Jakarta City Philharmonic sejauh ini (dan dari pertunjukan semalam) selalu sukses menjadi cermin refleksi (katarsis) kenyataan hidup. Dan hal ini tentunya hanya bisa dicapai dengan musikalitas yang total; karya yang relevan dan pemusik yang berkomitmen.

Proficiat, Jakarta City Philharmonic.

Terus berkarya, kami nantikan episode berikutnya.

SIMAK juga:
Perspektif lain atas konser JCP Edisi ke-9 ini lewat ulasan Andre Loong: Sebuah Perjalanan ke Negeri Paman Sam atau perspektif Michael B. Mulyadi atas konser JCP Edisi ke-9 ini lewat ulasan: Melayangkan Harapan Berpijak Bersama JCP

Iklan
About JC Pramudia Natal (4 Articles)
Educator and Musician. I have been teaching and educating since 2001. My field mostly cover Humanities, majoring in Literature and Art and minoring in Music Performance. In my spare time outside of teaching i play piano, sing in a choir, read books, and sometimes write column or essay.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: